Pilkada Langsung atau Tak Langsung?

10 Oktober 2009

Presiden RI dipilih langsung oleh rakyat sesuai UUD 45 yang diamandemen. Kemudian dalam semangat yang sama gubernur juga dipilih langsung. Banyak pihak melihat demokrasi sudah berjalan ke arah yang benar. Walaupun perlu banyak biaya dan tenaga.

Setelah kisruh pilkada Gubernur Jawa Timur, Mendagri Mardiyanto membuka lagi wacana pemilihan Gubernur tidak langsung alias dipilih oleh DPRD. Berikut kutipannya:

Ia mengatakan, pemilihan kepala daerah di sejumlah daerah sudah terbukti menghabiskan banyak biaya, seperti di Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Di Sulsel, pemilihan gubernur langsung diselenggarakan sebanyak dua putaran karena ketidakpuasan salah satu calon atas hasil penghitungan suara akhir.

Di Jatim, pemilihan gubernur diulang hingga tiga putaran karena sejumlah kasus, di antaranya dugaan penggelembungan suara. “Untung saja tidak sampai empat putaran,” ujarnya.

Selain menguras anggaran belanja dan pendapatan daerah, sejumlah pihak juga menilai pilkada juga rawan menimbulkan konflik antar kepentingan yang merugikan masyarakat.

Berbagai macam alasan dan pertimbangan dikemukakan untuk mengubah pilkada dari langsung menjadi tak langsung. Mana yang benar, atau mana yang lebih baik?

Alasan utama yang dikemukakan Mendagri memang masuk akal. Pada 2010 akan ada 240 pilkada, bayangkan biaya dan repotnya penyelenggaraannya. Tapi apakah itu alasan yang tepat? Tidakkah memang jika arah demokrasi sudah benar maka “harga” nya harus dibayar seperti Pilpres misalnya.

Entah bagaimana persisnya gubernur akhirnya juga dipilih langsung, padahal dalam UUD 45 tidak disebut langsung tapi hanya disebut dipilih secara demokratis. Prof Ryaas Rasyid bahkan mengatakan hapuskan saja Pilkada Gubernur.

Menurut Ryaas dalam UUD 1945 tidak diatur mengenai pilkada langsung gubernur tersebut. Menurut Ryaas yang ada hanya menyebutkan bahwa gubernur ‘dipilih secara demokratis’.

Dengan demikian pemilihan gubernur melalui DPDR I tersebut juga sudah memenuhi aturan undang-undang ‘dipilih secara demokratis’.

Lebih lanjut Ryaas menjelaskan berdasarkan UU No 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah ditegaskan pula bahwa gubernur itu selain kepala daerah juga merupakan wakil pemerintah pusat. Dengan demikian jika konsisten bahwa gubernur juga wakil pemerintah pusat, maka tidak perlu ada lagi pilkada langsung.

“Ini tidak konsisten. Saya curiga konsepnya tidak dipahami oleh pemerintah. ‘Wong’ wakil pemerintah pusat, ‘kok’ dipilih langsung,” kata Ryaas.

Saya lebih setuju alasan yang dikemukakan oleh Ryaas Rasyid untuk mengubah pilkada gubernur langsung menjadi tidak langsung. Presiden memang harus dipilih secara langsung karena merupakan tuntutan reformasi, tanpa itu maka demokrasi masih mirip seperti Orba saja. Untuk itulah UUD 45 diamandemen.

Sedangkan karena negara kita negara kesatuan maka pemerintah pusat harus memiliki otoritas yang cukup didaerah. Tidak seperti Amerika Serikat yang merupakan negara federal dimana gubernurnya adalah kepala negara bagian (state) dan bukan wakil pemerintah pusat (federal) maka gubernurnya dipilih langsung.

Saya pernah mengalami bagaimana organisasi yang lingkupnya nasional sulit sekali melakukan koordinasi dengan subordinatnya di daerah kalau tidak memiliki otoritas.

Waktu kami terlibat pengembangan system pengumpulan suara pilpres lewat SMS dimana kami harus bekerja sama tidak hanya dengan KPU pusat tapi juga dengan KPUD. Kami melihat dengan jelas bagaimana kebijakan KPU pusat sulit bisa berjalan dengan efektif karena KPUD enggan mematuhinya dengan berbagai alasan.

Lantas jika gubernur tidak dipilih langsung tidakkah akan menimbulkan masalah lama yang ingin dipecahkan yaitu otonomi daerah dimana tiap tiap daerah otonom berhak untuk mengatur daerahnya masing masing tanpa campur tangan pemerintah pusat.

Untuk itu mungkin perlu payung hukum (entah baru atau revisi UU) untuk tetap memberi keleluasan otonom pada gubernur dalam mengatur wilayahnya dalam persoalan rumah tangganya. Namun untuk urusan yang sifatnya pemerintahan gubernur harus menjadi wakil pemerintah pusat. Misalnya untuk urusan perencanaan pembangunan, koordinasi lintas sektoral, penyediaan dan pertukaran informasi, koordinasi bencana dll.

Dengan demikian pemerintahan akan berjalan dengan lebih terkoordinasi. Bahaya politik sentralisasi kekuasaan mungkin bisa terjadi. Mirip seperti jaman Orba lagi. Dulu jaman Orba Golkar menguasai parlemen dan walhasil sampai ke daerah tingkat 2 kepala daerahnya didominasi Golkar. Nah sekarang Partai Demokrat dan koalisinya menguasai parlemen.

Menurut saya bahaya ini bisa diredam karena bupati masih dipilih langsung oleh rakyat. Bagaimana menurut anda?


Sahur di Twitter #sawityowit

22 Agustus 2009

Bagaimana sahurnya teman teman di twitter? Ternyata lebih seru dari nonton TV loh, dijamin ngakak. Saya sampe gak sempet nimbrung, sibuk tertawa. Kalo ke twitter masuk ke channel #sawityowit. Pentolanya juga gak asing lagi, @vincentrompies, @desta80s, @dagienkz dan @tora_sudiro. Baca sendiri deh, screenshut ini baca dari bawah!

twitter sahur


Kami Tidak Takut #IndonesiaUnite #merdeka

14 Agustus 2009

Twitter Spam

22 Juli 2009

Pernah kesal akibat ulah spammer di email? Mereka mengirim junk email yang memenuhi inbox kita kalau tidak terfilter. Jika anda main twitter, maka spammer ini juga ada. Tapi modus yang saya lihat sedikit beda. Mereka tidak kirim junk direct message tapi kirim junk reply.

Gangguan apa yang bisa membuat kita kesal dari spammer ini? Mungkin anda sering berbalas tweet dengan teman dengan melihat #replies. Anda tentu berharap melihat balasan atau RT dari para follower. Tapi kalau yang reply adalah para spammer maka tentu akan mengecoh, pertama saya pikir ini orang sok kenal sok deket banget sih… tapi ternyata spammer. Perhatikan gambar dibawah:

Twitter Spam

Twitter Spam

Coba perhatikan nama nama mereka dan avatarnya. Rata rata cewek semok dengan nama nama bule. Kalau diemail mereka melakukan spam dengan mengirim email promosi produk kalau disini agak aneh. Mereka mengcopy reply orang lain lalu meng-tweet ke saya.

Lebih aneh lagi sumber yang mereka copy cuma orang orang tertentu, satu orang tepatnya. Dia itu adalah Pak Nukman. Saya heran kenapa Pak Nukman digemari spammer, apakah karena Pak Nukman seorang seleb? atau karena komputer Pak Nukman terinfeksi virus? *nakut-nakutin Pak Nukman* entahlah…

Bacaan:http://www.stoptwitterspam.com/blog/


SERIS Behind The Scene

11 Juli 2009
Rooftop Plangi

Rooftop Plangi

Pada saat Harry Sufehmi menghubungi saya lewat telephone untuk bergabung dalam tim pengembang SERIS, itu terjadi satu bulan sebelum hari H pilpres. Harry menceritakan konsep SERIS bersama Riyogarta di Rooftop Plaza Semanggi.

Ketertarikan yang paling utama adalah ingin membuktikan bahwa TI bisa memberikan solusi dan bukan menjadi masalah seperti pileg tempo hari.

KPU, IFES and Me

IFES

Satu hal yang saya tanyakan kepada Riyo sebagai orang IFES adalah apakah nanti ada interfensi dari IFES kepada kami tim pengembang SERIS. Riyo menjamin itu tidak akan terjadi. Tapi IFES juga minta kami untuk tidak membocorkan proyek ini ke publik selama proses pengembangan karena aspek politik dalam proyek ini sangat kuat.

Pengalaman IFES membantu demokrasi beberapa negara berkembang mengatakan proyek ini sangat riskan. Rata rata negara berkembang membatalkan proyek pada saat saat akhir, dan alasan mereka adalah karena penghitungan suara melalui SMS terlalu transparan. Bahkan ada negara yang hasil pilpresnya sudah diketahui sehari sebelum pemilihan. Parah.

Saya tidak mau Indonesia seperti itu, oleh karena itu ketika KPU membuka pintu masuk proyek ini melalui IFES saya tidak pikir dua kali. Kesempatan ini harus diambil dan dikerjakan dengan sebaik mungkin. Kami bergerak cepat, siang malam melakukan perencanaan, design dan implementasi dengan metodologi extreme programming. Berbagai macam kendala kami temui yang akan saya ceritakan disela sela pemaparan saya.

Pada tulisan ini saya ingin memaparkan proses kerja dari SERIS pada tingkat konsep. Bisa dilihat dari diagram dibawah ini. Ada empat aktor dalam lima tahap proses. Aktor tersebut adalah KPPS, SERIS, Telkomsel dan KPU. Masing masing aktor ini harus mampu berkerja sama dan berusaha maksimal untuk mendapatkan hasil akhir yang optimal.

Diagram SERIS

Diagram SERIS

ZONA 1

Pada tahap awal di ZONA 1 ada dua aktor yang berperan: SERIS dan KPU. SERIS akan men-generate keycode untuk di sebar ke seluruh KPPS guna kepentingan proses registrasi. Keycode dibutuhkan untuk mengenali wilayah dan nomor TPS mereka. Dalam keycode ada informasi wilayah kabupaten. Idealnya dalam keycode sudah terkandung informasi hingga tingkat kelurahan tapi KPU tidak memiliki data tentang sebaran jumlah TPS di tingkat kelurahan. KPU hanya memiliki data jumlah TPS pada tingkat kabupaten.

Memperkenalan SERIS pada KPPS

Memperkenalan SERIS pada KPPS

Keberhasilan ditahap awal akan sangat mempengaruhi keberhasilan ditahap selanjutnya. Dampaknya adalah KPPS diminta memasukkan kode kecamatan dan kode kelurahan dari daftar kode pada sistem SITUNG yang dibuat oleh tim ahli KPU dari BPPT. Kode tersebut telah digunakan oleh KPPS pada sistem ICR di pileg kemarin.

Kode keycode diberikan kepada KPU untuk disebar keseluruh KPPS. Proses penyebaran dibantu helpdesk tim ahli TI KPU. Idealnya keycode disebar bersamaan dengan surat edaran yang berisi keputusan KPU sebagai dasar hukum pelaporan suara pilpres lewat SMS agar KPPS tidak ragu ragu dalam melakukan registrasi nomor handphone mereka. Tapi entah kenapa surat edaran tidak bersamaan. Hingga kini saya tidak tahu pasti apakah surat edaran KPU benar benar di sebar ke daerah atau tidak.

Bagi pembaca blog ini yang kebetulan anggota KPPS mungkin bisa klarifikasi apakah ada surat edaran dari KPU untuk penggunaan SMS pilpres. Surat itu menjadi sangat penting sebab ada laporan KPPS yang sudah menerima keycode tapi ragu melakukan registrasi karena tidak ada surat edaran.

SERIS sudah men-generate 450 ribuan keycode yang sudah dialokasikan per-kabupaten. Kami berharap keycode segera sampai dan KPPS segera melakukan registrasi. SERIS dan Telkomsel telah menyusun rencana uji coba secara menyeluruh, tapi hingga H-2 KPPS yang mendaftar sangat minim.

ZONA 2

Tahap registrasi sungguh terasa lambat. Tiga hari setelah keycode disebar, KPPS yang melakukan registrasi hanya ribuan KPPS dari total 450 ribuan. Ini membuat kami pesimis sistem ini bisa jalan. Disinilah pentingnya surat edaran.

Sebenarnya proses registrasi sudah pernah kami coba menggunakan aplikasi web yang dijalankan di atas VPN milik KPU yang jaringannya mencapai tingkat kabupaten. Tapi ini juga sangat lambat karena hanya beberapa kabupaten yang entry data Handphone KPPS. Saya pribadi sebenarnya berharap pada metode entry lewat aplikasi web ini sebab data yang didapat akan lebih rapi dan lebih mudah dikelola.

Tapi cara ini akan lebih membutuhkan peran aktif KPUD dalam mengumpulkan nomor HP dan informasi lainnya. Dikejar tenggat waktu akhirnya dengan berat hati cara ini ditinggalkan dan menggunakan cara registrasi menyebarkan lembaran printout keycode secara fisik kedaerah yang hasilnya juga tidak optimal.

Hal yang membuat saya geleng geleng kepala adalah ada usaha nomor HP KPPS di catat dalam bentuk kertas dan kemudian diserahkan ke kami untuk di entry. Masih mending kalau nomor HP itu dilengkapi dengan informasi yang dibutuhkan seperti Kecamatan, Kelurahan, nomor TPS dan jumlah DPT. Tapi ini hanya nomor HP. Ada ribuan nomor HP yang tidak semuanya Telkomsel itu mesti dimasukan ke database dari catatan kertas. Kami hanya bertujuh dan masing masing sudah punya tugasnya sendiri sendiri. Jelas tidak mungkin kami lakukan dengan cara manual begitu.

Kunci sukses registrasi adalah KPPS harus mendapatkan nomor keycode. Jika nomor keycode tidak didapat maka registrasi tidak dapat dilakukan. Bagi KPPS yang sudah mendapatkan keycode diharapkan segera mendaftar pada nomor ADN Telkomsel 8866. Setelah nomor kami dapatkan akan dibuatkan whitelist daftar nomor HP untuk Telkomsel melakukan broadcast nomor ADN pengiriman rekap 8822.

Kalau diperhatikan posisi Validasi yang berada sebagian di kolom SERIS dan sebagian di kolom Telkomsel, itu karena sebagian Validasi dilakukan oleh Telkomsel dan sebagian oleh SERIS.

Pada malam H-1 registrasi mengalir deras dari berbagai propinsi. Tapi kami tidak habis pikir bagaimana mungkin ada propinsi yang tidak melakukan registrasi satu TPS pun. Kalau jaringan Telkomsel tidak berfungsi di suatu wilayah terpencil tertentu mungkin masih masuk akal, tapi untuk satu propinsi itu tidak mungkin. Jadi kemungkinan mereka tidak mendapat keycode. Apa yang sebenarnya terjadi saya tidak tahu.

Kebanyakan dari propinsi itu dari wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. Mungkin karena wilayah timur itu sulit transportasinya ke daerah daerah. Tolong jika ada info apakah KPPS menerima keycode dan surat edaran mungkin bisa diberi masukan disini.

ZONA 3

Menjelang hari H kami semakin panik karena proses registrasi sangat lamban. Berbagai cara kami pikirkan untuk memberitahu para KPPS di daerah untuk memperoleh keycode mereka. Pernah terpikirkan kami memanfaatkan jaringan komunitas blogger untuk sosialiasi penggunaan keycode ini.

Tapi kami terbentur oleh komitmen untuk tidak membocorkan identitas kami dan proyek SERIS ini sebelum hari H. Lebih ekstrim lagi pernah terpikirkan untuk melakukannya lewat iklan ditelevisi tapi tidak disetujui. Jika saja kami diijinkan menggunakan jaringan komunitas blogger, milis dan forum diskusi maka hasilnya akan berbeda.

Menurut rencana proses registrasi ditutup pada H-1 tapi itu tidak mungkin melihat jumlah TPS yang mendaftar sangat minim. Akhirnya proses registrasi diperpanjang menjadi pada hari H jam 10 pagi. Sejak malam hingga pagi itu aliran registrasi sangat deras.

Sebenarnya kami lebih suka jika registrasi pelan pelan dan bertahap supaya tidak terjadi bottleneck dan beban server yang berat. Tapi apa daya keadaan memaksa kami harus menghadapi situasi seperti ini. Untung saja kami punya arsitektur jaringan yang bagus dan sysadmin yang handal sehingga system SERIS ini tetap mampu menerima aliran data registrasi yang hanya dalam hitungan jam menerima 104 ribuan TPS.

Terimakasih buat Telkomsel yang telah bekerja sama dengan sangat baik mengalirkan data dari SMS center mereka ke server kami dengan lancar. Setelah registrasi ditutup kami mendapatkan whitelist. Semula dengan whitelist tersebut SERIS akan melakukan broadcast nomor ADN Telkomsel untuk pengiriman rekap pilpres melalui API Telkomsel tapi kemudian Telkomsel berbaik hati mengirimkan broadcast tersebut langsung melalui server mereka.

ZONA 4

Jika ada masukan dari pembaca blog ini yang anggota KPPS, tolong diinformasikan jam berapa anda menerima broadcast nomor ADN pengiriman rekap 8822. Pengiriman rekap pertama yang masuk ke server SERIS dari SMS Center Telkomsel adalah sekitar jam 2 siang. Sebenarnya kami sangat antusias menunggu hasil dan menayangkannya langsung ke masyarakat secara real time. Kami telah mempersiapkan arsitektur jaringan untuk kepentingan ini.

Semakin sore aliran data rekap pilpres semakin banyak tapi keputusan apakah kami boleh menayangkannya belum kunjung diputuskan. Jangankan itu, domain name yang akan dipakaipun belum ada keputusannya. Apakah SERIS akan menggunakan domain tnp.kpu.go.id atau akan menggunakan domain lain, tidak jelas.

Tim ahli TI KPU

Tim ahli TI KPU

Data yang masuk melampaui angka 104 ribu karena kami memberikan fasilitas ralat bagi para KPPS yang salah dalam mengirimkan rekap pilpres. Hingga malam tiba, menjelang pukul 12 malam kami dikunjungi oleh Pak Abdul Aziz, salah satu anggota KPU yang mengatakan bahwa data hasil SERIS ini tak dapat ditayangkan oleh kami sendiri karena menyandang nama IFES, LSM asing, ini akan mengundang kontrovesi dimasyarakat. Keputusannya adalah data hasil SERIS harus diberikan kepada tim ahli TI KPU untuk ditayangkan dengan cara mereka. Format data yang diminta adalah CSV.

ZONA 5

Sebagai kompensasinya kami diperbolehkan memberikan kredit pada halaman penayangan tersebut. Text kredit yang kami usulkan adalah OpenSource dan telah disetujui tapi hingga data kami berikan dan ditayangkan kata kredit OpenSource tersebut tak pernah dicantumkan. Bahkan yang dicantumkan adalah IFES yang justru lebih mengundang kontroversi.

Penayangan data hasil SERIS ditayangan seperti yang ada di tnp.kpu.go.id. Kedalaman data pada halaman tersebut hanya sampai tingkat kecamatan. Padahal interface yang kami siapkan bisa melihat hingga tingkat TPS. Kami bahkan dapat memperlihatkan hingga data ralat supaya masyarakat bisa tahu TPS mana yang melakukan ralat.

Kemudian dari seluruh TPS yang mengirimkan rekap suara didapat komposisi seperti sekarang. Komposisi tersebut memiliki proporsi prosentase yang seharusnya mendampingi penayangan data rekap suara. Tanpa proporsi prosentase masyarakat bisa mispersepsi dengan data tersebut. Seperti misalnya data yang ditampilkan adalah hanya 104 ribu dari 450 ribu TPS. Interface yang kami rancang sebenarnya dapat menampilkan informasi tersebut.

Kemudian sebaran di masing masing propinsi juga memiliki prosentase yang berbeda beda. Data prosentase tersebut harus ditampilkan bersama data rekap. Tanpa itu masyakarat yang melihat bisa mispersepsi dan mengundang kontroversi. Banyak data yang bisa kami tampilkan tapi karena alasan politik itu tak bisa dilakukan. Sayang sekali. Hasilnya adalah ada pihak pihak yang merasa curiga dan kecewa dengan hasil SERIS.

Kesimpulan

Menjalani proses proyek SERIS ini membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa kendala terbesar dalam proyek ini adalah kendala non-teknis. Dari sisi teknis semua teknologi yang digunakan bukan lagi hal baru dan sudah relatif matang. Mulai dari OpenSource, SMS dan jaringan Telkomsel. Mereka semua sudah teruji.

Saya berharap dimasa yang akan datang pengembangan proyek semacam ini harus didukung penuh oleh semua pihak. Terus terang saya merasa sedih. Kalau SERIS ini mau dianggap progres. Indonesia yang diwakili KPU dengan dana yang begitu besar tapi progres dibidang sistem berdemokrasi tidak disponsori dari sumber daya sendiri tapi malah disponsori oleh lembaga asing dengan dana minim. Ironis bangsa ini.

Pertemuan dengan Pak Aziz (baju biru)

Pertemuan dengan Pak Aziz (baju biru)

Saya kok tidak terlalu setuju melimpahkan semua kesalahan pada KPU. Bisa jadi ini kesalahan kita semua. Gambaran ini saya dapatkan ketika berbincang dengan anggota KPU Pak Abdul Aziz. Pak Aziz adalah anggota KPU yang memberikan jalan masuk pada kami melalui IFES untuk mengembangkan SERIS. Dimata beliau teknologi OpenSource harus diberi kesempatan.

Saya memberi masukan pada beliau: kalau program program KPU mau diendorse oleh masyarakat maka sebaiknya KPU mempublish semua kegiatan proyeknya agar masyarakat dapat melihat progres dari proyek tersebut. Seperti misalnya soal DPT. Seandainya progres DPT dapat dipantau oleh masyarakat maka data dapat dengan mudah dikoreksi dan diverifikasi bila ada kesalahan. Pak Aziz mengaku data tersebut tak pernah ditutup. Tapi mungkin kesulitannya adalah bagaimana cara membukannya pada masyarakat.

Bagi kami orang OpenSource hal tersebut mungkin tidak terlalu sulit. Tapi bagi KPU yang tidak memiliki sumber daya TI adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Saya sedih melihat kenyataan ini. Disatu sisi kita mampu tapi dilain sisi tidak mendapat kesempatan untuk membantu yang butuh seperti KPU.

Sekalinya dapat kesempatan seperti sekarang, menggunakan kendaraan IFES yang membuat masyarakat curiga akan niat baiknya. Padahal tanpa IFES program SERIS ini tak akan berjalan. IFES adalah LSM asing yang sudah terdaftar di BAPENAS dan telah memiliki MOU dengan KPU. Meskipun IFES adalah LSM Asing, namun pekerjanya mayoritas adalah anak bangsa. SERIS sendiri dibuat oleh 100% tenaga kerja lokal tanpa campur tangan asing. Melihat potensi transparansi dari sistem SERIS ini untuk demokrasi dan KPU melalui Pak Aziz memberi jalan sekaligus memastikan hasil tabulasi SMS ini bisa tayang adalah sebuah prestasi menurut saya.

Ini adalah cikal bakal menuju demokrasi transparan yang tidak boleh dibunuh seperti dinegara negara berkembang lain. Masih banyak yang ingin saya sampaikan tapi tulisan saya sudah terlalu panjang, sambung lain waktu…

KPU khususnya Pak Aziz program ini tak terwujud.

Masa Depan Social Media Dalam Lima Era

24 Mei 2009

Berharap Groundswell berlanjut, dimana orang orang saling terhubung ketimbang antar institusi. Pengunaan Social-media oleh pengguna Internet meningkat begitu pesat, berbagai perusahaan juga mengadopsi bahkan pada saat resesi, jadi berharap akan ada inovasi baru yang sesuai dengan tren ini. Klien dapat mengakses laporan ini disini, tetapi sebagai ringkasan atas apa yang kami temukan, dalam Executive Summary kami nyatakan:

Dewasa ini pengalaman masyarakat dalam menggunakan Social-media belum terpadu karena pengguna Social-media memiliki identitas terpisah di masing-masing jaringan sosial yang mereka kunjungi. Seperangkat teknologi yang memungkinkan sebuah identitas menjadi portabel akan dapat memberdayakan pengguna social-media masuk ke dalam transformasi pemasaran, e-Commerce, CRM, dan iklan.

Identitas hanyalah awal transformasi ini, di mana Web akan berkembang langkah demi langkah dari “situs sosial” yang terpisah menjadi “situs sosial” yang terpadu. Pengguna Internet akan bergantung pada rekan-rekan mereka karena mereka membuat keputusan secara online, tanpa bergantung apakah perusahaan pemilik produk berpartisipasi pada “situs sosial” itu atau tidak.

Pengguna Internet yang terhubung dalam Social-media akan membuat komunitas pelanggan menjadi kuat dan menggeser dominasi tirani perusahaan dengan CRMnya,  ini akhirnya akan menghasilkan pemberdayaan masyarakat dalam menentukan generasi selanjutkan dari sebuah produk.

Kami menemukan bahwa teknologi memicu perubahan cara belanja pelanggan, produk akan mengikuti, hasilnya adalah lima gelombang yang terdiri dari:

Lima Era dari Social Web:

  1. Era Social Relationships:  Orang menggunakan Social-media untuk saling terhubung ke orang lain dan saling berbagi informasi.
  2. Era Social Functionality:  Social-media menjadi seperti sistem operasi dengan aplikasi sosial, namun identitas masih belum terpadu.
  3. Era Social Colonization: Identitas sudah terpadu dan setiap transaksi dapat diketahui karena terhubung ke dalam jaringan aplikasi sosial.
  4. Era Social Context:  Pada era ini sebuah situs sosial dapat memberikan layanan sesuai dengan konteks pelanggannya. Social-media akan menjadi platform untuk semua layanan TI.
  5. Era Social Commerce: Ini era dimana masyarakat dapat menentukan bagaimana masa depan sebuah produk atau layanan.

Update: Majalah CRM menjelaskan lebih banyak tentang lima era ini dengan fokus pada gambar dibawah.

Lima Era Social-Web

Lima Era Social-Web

Rentang waktu dari Lima Era:

Perlu diketahui bahwa era-era itu tidak berurutan, tapi mereka tumpang tindih. Kita telah memasuki dan mengalami kematangan dari era Social Relationships, juga telah masuk ke era Social Functionality namun belum benar benar terutilisasi, dan mulai masuk ke era Social Colonization dengan teknologi awal seperti Facebook Connect. Identitas terpadu ini akan segera memberdayakan masyarakat untuk memasuki era Social Context dengan personalisasi konten. Diagram berikut ini menunjukkan bagaimana kita akan melihat era era tersebut di masa depan dengan Social Commerce sebagai era terjauh.

Rentang Waktu Lima Era

Rentang Waktu Lima Era

Wawancara dengan 24 perusahaan teratas yang menggunakan Social-media:
Penelitian ini bukan dilakukan tanpa responden, itulah sebabnya kami melakukan penelitian kualitatif untuk mengetahui apa yang kami duga. Kami sampai pada kesimpulan ini berdasarkan wawancara dengan eksekutif, manajer produk, dan strategists pada 24 perusahaan berikut: Appirio, Cisco Eos, Dell, Facebook, Federated Media Publishing, Flock, Gigya, Google (Open Social/stack team), Graphing Social Patterns (Dave McClure), IBM (SOA Team), Intel (social media marketing team), KickApps, LinkedIn, Meebo, Microsoft (Live team), MySpace, OpenID Foundation (Chris Messina), Plaxo, Pluck, Razorfish, ReadWriteWeb, salesforce.com, Six Apart, dan Twitter.

Bagaimana sebuah produk/layanan harus disiapkan.

Apa yang menarik adalah bukan visinya, melainkan apa yang membuat produk/layanan kita tetap bertahan, dimana hasilnya adalah, perusahaan harus mempersiapkan diri dengan:

  • Don’t Hesitate: Perubahan datang begitu cepat, dan kita telah berada di era ke tiga pada akhir tahun ini. Perusahaan harus mempersiapkan diri dengan melakukan perencanaan jangka pendek untuk era sekarang. Jangan tertinggal dan membiarkan kompetitor terhubung dengan masyarakat pengguna Social-media sebelum anda melakukannya.
  • Prepare For Transparency: Orang-orang akan dapat menjelajahi web bersama teman-teman mereka, karenanya anda harus memiliki rencana. Mempersiapkan setiap halaman web dan produk yang akan direview oleh pelanggan anda dan terlihat oleh prospek, bahkan jika anda memilih untuk tidak berpartisipasi.
  • Connect with Advocates: Fokus pada pelanggan yang fanatik, mereka dapat membela produk anda dari para penghujat. Pendapat mereka lebih dipercaya, dan ketika kekuasaan bergeser ke komunitas, dan mereka mulai menentukan bagaimana seharusnya sebuah produk, maka mereka menjadi lebih penting dari segalanya.
  • Evolve your Enterprise Systems: Sistem perusahaan anda perlu melakukan koneksi ke Social-media. Jaringan Social-media dengan cepat berubah menjadi sumber informasi pelanggan melampaui sistem CRM perusahaan anda. Sistem CMS perlu memiliki fitur Social-media, desak vendor anda untuk menyediakan ini atau bergabung dengan komunitas Social-media.
  • Shatter your Corporate Website: Pada masa depan yang paling radikal, konten akan datang ke konsumen -ketimbang mereka mencari konten- siap siap merombak website perusahaan anda dan biarkan isinya terdistribusi ke Social-media. Biarkan informasi yang paling penting menyebar ke masyarakat.
Jeremiah Owyang

Jeremiah Owyang

Artikel ini adalah terjemahan dari artikel Jeremiah Owyang yang berjudul “The Future of the Social Web: In Five Eras“, Jeremiah adalah seorang analis senior di Forrester.com yang tulisannya banyak dirujuk sebagai referensi untuk bidang strategi web. Forrester Research, Inc adalah sebuah lembaga penelitian indenpen yang telah listing di NASDAQ. Fokus penelitian Owyang adalah bidang social computng industry.


Akhir Semester Tiga

23 Mei 2009
Science Park

Science Park

Tak terasa kuliah sudah menginjak akhir semester tiga.  Padahal rasanya baru kemarin kami berkutat dalam tugas yang bikin stress. Sebentar lagi saya bakal jarang bertemu dengan temen temen sekelsa. Bahkan bagi yang sudah ambil tesis di semester tiga ini dan insyallah mereka maju ujian bulan juli maka jika lulus kita akan berpisah. Jadi akhir semester tiga ini sessungguhnya akhir perkualiahan kita, karena semster 4 cuma ada tesis.

Dipenghujung semester tiga ini kami sempatkan foto foto walaupun tidak diikuti oleh keseluruhan mahasiswa kelas 2007 FA. Berikut beberapa foto fotonya.

Jembatan

Fasilkom UI

Fasilkom UI

Kamera: Kodak Z1012

Kamera: Kodak Z1012

Makan sebelum pulang

Makan di Saung Mang Engking sebelum pulang


Coopetition Dalam Network-Economy

30 Maret 2009
Coopetition

Coopetition

Pada tulisan saya yang lalu tentang business model dalam era network-economy disinggung tentang Facebook. Tulisan itu lebih banyak memaparkan fenomena ketimbang menjelaskan konsep. Kali ini saya ingin lebih banyak mengulas tentang konsep dan strategi persaingan bisnis online di era network-economy.

Strategi memenangkan persaingan dalam era network-economy tidak cukup lagi dilihat hanya dengan 5 aspek kekuatan bersaing yang dikemukakan oleh Michael E. Porter.

Lima kekuatan bersaing itu antara lain si pelaku bisnis, kompetitor, pemasok, subtitusi dan konsumen. Kekuatan yang ke enam adalah komplementer. Untuk menjelaskan ini kita mulai dari awal.

***

Peran dari kemajuan teknologi informasi memaksa dunia usaha mengalami perubahan dimana sebuah bisnis dapat memberikan value yang lebih besar dengan melakukan kerja sama antara dua atau lebih perusahaan ketimbang dilakukan oleh hanya satu perusahaan yang menguasai seluruh lini layanan.

Dengan kerja sama antar perusahaan ini skala bisnis untuk masing masing pemain menjadi lebih kecil dan bidang bisnis menjadi lebih spesifik membuat model bisnis menjadi harus dinyatakan dengan lebih terperinci. Monopoli juga semakin sulit terjadi karena tidak ada lagi yang bisa melakukannya.

Kerja sama antar dua perusahaan atau lebih, dipicu oleh keinginan untuk dapat memenangkan persaingan dengan menciptakan nilai tambah (value-creation) sebagai buah dari kerja sama tersebut. Jadi disini ada dua kata kunci “bekerja sama” dan “bersaing”, yang sejatinya berseberangan.

Dari sinilah konsep coopetition strategy lahir. Gabungan antara competitive dan cooperative. Adalah Brandenburger dan Nalebuff yang mempopulerkan lewat bukunya Co-opetition tahun 1997.

Lalu bagaimana dua paradigma yang berseberangan ini dapat disatukan menjadi sebuah strategi?

Untuk menjelaskan itu dapat ditelusuri kembali dari fenomena pesatnya kemajuan TI yang memungkin proses bisnis dipecah-pecah dan mampu berdiri sendiri untuk dapat melayani proses dari bisnis yang berbeda.

Saya akan beri contoh. Dahulu kala kita tidak mengenal PC rakitan, tahun 80an jika kita butuh sebuah PC maka pilihannya hanya ada IBM PC, yang seluruh komponen baik hardware maupun software dibuat oleh satu perusahaan, yakni IBM.

Kini jangankan PC rakitan, PC ber-merk-pun komponennya tidak dibuat oleh satu perusahaan tapi merupakan produk dari berbagai macam perusahaan yang tersebar secara geografis. Contohnya adalah perusahaan komputer Dell Inc yang memperkenalkan pendekatan “configure to order“. Sebuah value added yang mampu ditawarkan Dell tapi tidak oleh pesaingnya kala itu.

Kerjasama yang dilakukan menekan fixed-cost yang sangat besar yang harus dikeluarkan oleh pemain yang berdiri sendiri. Contoh diatas dapat dilihat sebagai bentuk hubungan konsumen dan pemasok yang biasanya dijalin dalam bentuk kerjasama rekanan.

Pemain dalam rantai proses bisnis tidak harus dalam bentuk rekanan konsumen-pemasok tapi bisa dalam bentuk komplementer (pelengkap). Prinsipnya dapat memberikan nilai tambah. Contoh klasik dari Brandenburger dan Nalebuff adalah Intel dan Microsoft. Hubungan mereka bukan antar pemasok dan konsumen tapi hanya sebagai komplementer.

Tapi justru komplementer inilah yang menjadi ciri utama network-economy. Para pemain komplementer dituntut untuk dapat berperan cooperative, karena komplementer ada dalam proses bisnis yang memiliki model bisnis yang berbeda. Sedangkan bila model bisnisnya sama maka sikap yang dituntut adalah cooperative sekaligus competitive atau dikenal dengan coopetition.

Contoh komplementer dalam industri web antara lain:

  • Amazon dan Fedex
  • Ebay dan Paypal
  • Google Apps dan GoDaddy
  • PHP dan MySQL
  • WordPress dan MyBlogLog
  • Firefox dan Shockwave Flash

Masing masing memiliki model bisnis yang berbeda tapi saling melengkapi satu sama lain untuk dapat memberikan value lebih kepada konsumennya. Kekuatan kerjasama ini meningkatkan keunggulan bersaing untuk mereka semua.

Sedangkan untuk model bisnis yang sama sehingga muncul strategi coopetition perlu dijelaskan terlebih dahulu tipe tipe coopetition.

Dalam coopetition ada bekerja-sama dan bersaing. Karena para pemain kerjasama adalah juga sekaligus para pesaing maka dalam bekerjasama ada beberapa hal yang perlu dicermati untuk bisa di-komitmen-kan guna mencapai hasil kolaborasi yang istilahnya positive-sum game. Sebab jika salah menentukan komitmen maka hasilnya justru sebaliknya. Menurut Garraffo ada dua level komitmen yang membentuk 4 kuadran.

Market
Creation
High Standard setting Business integration
Low Knowledge exchange Cooperative R&D
Low High
Technology
Developments

Sumbu vertikal mencerminkan level komitmen penciptaan pasar sedangkan sumbu horisontal mencerminkan level komitmen pengembangan teknologi. Masing masing kuadran memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan berasal dari tingkat komitmennya.

Dalam industri web komitmen untuk bekerja sama dapat dilihat dari seberapa dalam sebuah fitur bersedia di-share fungsionalitasnya. Caranya adalah dengan mengubah fitur menjadi layanan (services) dengan menyediakan fasilitas akses ke fungsi fungsi internal melalui Application Programming Interface (API).

Dalam membuka akses untuk komitmen kerjasama harus benar benar dicermati agar nantinya pengguna API tersebut akan menggunakannya sesuai dengan tujuan yaitu bisa benar benar menghasilkan nilai tambah.

Beberapa perusahaan memberikan aturan aturan khusus pada para pengguna API nya untuk menghindari hilangnya core-value layanan mereka akibat dari ulah competitor yang bermuka cooperative.

Sebagai contoh, Flickr yang dalam “Terms of Service“-nya memberikan syarat penggunaan API dari layanan mereka dilarang untuk:

Use Flickr APIs for any application that replicates or attempts to replace the essential user experience of Flickr.com

Ini adalah proteksi akan core-value dari layanan Flickr yang tak ingin tersaingi oleh competitor pengguna API mereka sendiri. Proteksi terhadap akses pesaing tidak hanya dalam bentuk TOS seperti Flickr tapi juga bisa langsung dalam bentuk kemampuan fitur API itu sendiri. Tidak semua kemampuan utama diberikan begitu saja.

Namun demikian ada juga yang berani memberikan hampir segalanya dengan pandangan bahwa komitmen yang total akan memberikan hasil yang luar biasa juga. Prinsipnya adalah untuk memenangkan persaingan bukan dengan bagaimana mengalahkan pesaing tapi bagaimana merangkul pesaing.

Dalam era network-economy, ini adalah cara pandang yang sangat relevan. Ada beberapa kasus dari industri web yang bisa dijadikan contoh.

Google

Google memiliki mesin uang dari iklannya yang context-sensitive. Mesin iklan yang mampu beriklan sesuai dengan konteks hasil pencarian sehingga iklannya sangat efektif karena membidik segmen yang tepat.

Kemudian untuk memperluas pasar Google meluncurkan layanan AdSense yang memungkinkan situs web lain selain Google menjadi publisher iklan Google lengkap dengan kemampuan segmentasinya.

Dari satu sisi mungkin Google sebenarnya memberikan fasilitas bagi kompetitornya tapi dari sisi lain Google dan para publisher AdSense membuka pasar yang lebih luas. (contoh dari kuadran high-market low-development)

Walau pernah tercatat Google melarang ada iklan lain selain AdWord dihalaman publisher AdSense, namun sekarang kebijakan itu telah dihapus. Komitmen ditingkatkan untuk hasil yang lebih besar.

Facebook

Facebook adalah contoh terbaik untuk komitmen berbagi layanan. Pihak ketiga dapat membangun aplikasi diatas platform Facebook dengan fasilitas yang sama dengan developer internalnya.

Developer eksternal diberi kesempatan yang sama bahkan dalam pengembangan fitur fitur baru. Facebook sangat memperhatikan masukan masukan dari para pengembang third-party-nya. Ini adalah komitmen pengembangan teknologi.

Kemudian untuk komitmen penciptaan pasar Facebook memiliki layanan FB Connect yang memungkinkan situs web lain menggunakan database user mereka yang kini mencapai 175 juta user untuk di akses oleh pihak ketiga. (contoh dari kuadran high-market high-development)

Komitmen Facebook memperluas jangkauan pasar ini sungguh mengkhawatirkan para pesaingnya hingga mereka (Google-Yahoo-AIM-OpenID) berkolaborasi untuk menandingi FB Connect dengan meluncurkan layanan Google Friend Connect.

Google Friend Connect adalah layanan yang memungkinkan user dari masing masing portal tersebut menggunakan hanya satu account untuk login ke semua layanan portal.

Tapi sekali lagi seberapa jauh komitmen akan mempengaruhi hasilnya. Facebook tidak takut kehilangan core-value, terbukti dari keleluasaan pihak ketiga untuk mengembangkan aplikasi apapun diatas platform Facebook, bahkan pihak ketiga boleh membangun aplikasi social-media sekalipun yang tentu saja akan menjadi pesainganya.

Sebuah bisnis akan memiliki kekuatan bersaing yang tinggi apabila mampu memanfaatkan kekuatan network-economy ini. Tidak perlu re-invent the wheel untuk hal hal yang telah bisa disediakan oleh pemain lain dengan sangat baik. Manfaatkan mereka untuk keuntungan kita.

Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Apakah para pemain bisnis online di Indonesia sudah mengadopsi strategi coopetition, atau paling tidak sudahkah mereka berpikir secara komplementer, atau jangan jangan mereka masih hidup di era industrial-economy?

Tunggu artikel saya selanjutnya…


Business Model Dalam Era Network-Economy

1 Maret 2009
Facebook

Facebook

Seorang teman bertanya pada saya bisnis online apa yang bisa sukses di Indonesia sekarang ini. Saya tak bisa menjawab itu dengan satu paragraf. Banyak faktor yang mempengaruhi sebuah bisnis online bisa profit. Salah satunya adalah business model.

Saya ingin elaborasi sedikit dari sudut pandang yang lebih spesifik TI berkaitan juga dengan pertanyaan teman saya diatas tentang peluang bisnis online di Indonesia.

Melihat sifat sifat TI yang border-less dan sangat cepat perubahannya maka business model dalam bisnis online menjadi harus dituliskan dengan sangat spesifik dan jelas. Seberapa jelasnya dapat dilihat dari jawaban atas 4 pertanyaan yang menjadi unsur pembentuk business model.

business model paling tidak harus bisa menjawab 4 pertanyaan berikut:

  1. Siapa customer kita dan apa harapannya
    • Jawabannya harus sedetil mungkin hingga mencapai segmentasi
  2. Value apa yang kita berikan
    • Jawabannya harus sedetil mungkin hingga mencapai diferensiasi
  3. Dari mana datangnya revenue
    • Harus bisa diidentifikasi siapa dan bagaimana hubungan antara direct-customer dan indirect-customer
  4. Bagaimana revenue itu datang
    • Revenue model

Setelah business model ditentukan, baru kita bisa melihat siapa kompetitor kita dan siapa bukan, menentukan positioning kita dan tentu saja peluang akan terlihat dengan lebih jelas dalam state ini.

Jika dari ke empat pertanyaan diatas antara dua bisnis menghasilkan jawaban yang sama maka baru bisa dikatakan kedua bisnis tersebut bersaing secara head-to-head.

Dalam bisnis konvensional kemungkinan untuk terjadi head-to-head relatif lebih besar. Tapi dalam bisnis online dimana peran TI sangat dominan membuat kemungkinan terjadinya persaingan head-to-head menjadi lebih kecil, bahkan selalu saja ada cara yang ditemukan untuk membuat perbedaan business model.

Walhasil ragam business model menjadi mirip mirip atau bahkan banyak yang tidak jelas. Untuk membuat sebuah business yang benar benar jelas dibutuhkan inovasi.

Untuk dapat menjelaskan bagaimana TI dapat menjadi enabler terutama dalam bisnis online dengan konteks Indonesia maka saya akan tampilkan beberapa analisis tentang situs teratas dan kaitannya dengan business model

Data kualitatif dapat saya katakan sekarang layanan aplikasi social-media sedang booming dan tak bisa dikatakan selain Facebook, karena memang hanya Facebook.

Salah satu indikasinya dapat dilihat misalnya di kampus UI, seperti yang ditulis di Blog AnakUI.com:

Kenapa harus Facebook? Tentu saja, karena anak-anak UI yang pake Facebook itu jumlahnya udah nggak kehitung lagi.. Hari gini masihkah ada yang make Friendster? Rasanya mahasiswa kaya kita mah lebih prefer pake Facebook kan ya?

Data kuantitatif yang memperkuat statement ini adalah dari Alexa.com:

Dari pencarian khusus untuk negara Indonesia dapat dilihat hit top 100, saya kutipkan 15 besar saja. Data diakses pada hari Kamis, 26 Februari 2009.

  1. Yahoo.com (search-engine)
  2. Google.co.id (search-engine)
  3. Facebook (social-media)
  4. Google.com (search-engine)
  5. Friendster (social-media)
  6. Blogger (blog-hosting)
  7. YouTube (video-hosting)
  8. WordPress (blog-hosting)
  9. Detik.com (berita)
  10. Kaskus.us (forum)
  11. RapidShare (file-hosting)
  12. Wikipedia (knowledge)
  13. Travian.com (game)
  14. MSN.com (OS support)
  15. Multiply (blog-hosting)

Dua urutan teratas masih dipegang oleh bisnis search-engine yang memang tak bisa dijalankan oleh pemain biasa.

Sedangkan urutan ketiga dipegang oleh Facebook dari bisnis social-media. Urutan keempat kembali dipegang oleh bisnis search-engine, kemudian urutan kelima social-media Friendster.

Artinya lima besar hanya dikuasai oleh dua jenis bisnis tadi. Selanjutnya untuk jenis bisnis blog-hosting baru muncul di urutan ke 6 dan 8, bisnis video-hosting di urutan ke 7, bisnis berita baru muncul di urutan ke 9, forum diskusi urutan ke 10.

Antara satu bisnis dengan bisnis yang lain mungkin tidak head-to-head tapi tetap memiliki persamaan pada beberapa poin pertanyaan tentang business-model diatas. Katakanlah blogging sejak munculnya Plurk.com, dunia blogging jadi agak lesu, di pestablogger 2008 saya bertemu Priyadi, blogger senior dan dia mengatakan sejak main plurk jadi tidak sempat blogging lagi.

Kemudian Pak Made Wiryana menulis di Multiply:

Apakah dg makin populernya Facebook dan makin merakyatnya Blackberry yang ada Facebook mobile (he he he rakyat mana ya ?), akan menyebabkan makin sepinya multiply ?

Disebutkan disitu ada BlackBerry, itu adalah komponen dari jawaban pertanyaan nomor 2 untuk business model. Ada diferensiasi pada value yang dimiliki Facebook.

Dari data diatas kita tahu bahwa bisnis social-media adalah bisnis yang sangat diminati.

Dari semua bisnis pada daftar top 15 di atas yang foundernya orang Indonesia hanya Kaskus dan Detik. Mereka seperti kita tahu telah mulai sejak lama dan sekarang telah memiliki basis komunitas sebagai aset yang sangat berharga.

Bisnis blog-hosting di Indonesia tercatat ada dua pemain besar, blogdetik.com dan dagdigdug.com.

Untuk pertanyaan business model no 1:

Blogdetik.com memanfaatkan positioning pembaca detik.com.
Sedangkan dagdigdug.com memanfaatkan jaringan dan popularitas foundernya salah satunya adalah Enda Nasution (bapak blogger) yang komunitasnya dibangun sejak pestablogger 2007.

Jika ada calon pemain baru sudahkah memikirkan segmentasinya? Komunitas apa yang disasar?

Ingat bahwa sungguhpun mereka berdua telah memiliki positioning tersendiri tapi tetap urutan mereka di bisnis blog-hosting masih jauh dibawah Blogger dan WordPress.

Menarik untuk bisnis social-media karena jawaranya (Facebook) berada di posisi ke tiga, artinya pasarnya sangat besar. Business model Facebook sampai sekarang masih menjadi perdebatan para ahli manajemen.

Disinilah menariknya bisnis ini menurut saya, kita bisa mengembara dalam rimba ketidak jelasan business model sambil mengintip kemungkinan meraih peluang yang tak dicermati oleh pihak lawan.

Kalau saya katakan model bisnis social-media yang sukses itu adalah Facebook lantas apakah kalau kita memiliki software yang benar benar sama persis maka apakah kita bisa sukses seperti Facebook?

Layanan yang bisa diberikan oleh software aplikasi selama ini lebih dipandang hanya menjadi jawaban dari pertanyaan business model no 2 (value). Sedangkan masih ada 3 pertanyaan lagi yang menjadi faktor lain yang penting yang sebenarnya dapat berubah dengan kecanggihan software aplikasi.

Sebagai contoh dulu hanya Google yang punya aplikasi untuk menjadi publisher iklan mereka, tapi kemudian setelah Google meluncur sebuah aplikasi bernama AdSense sebagai sebuah layanan maka business model iklan online berubah.

Dulu hanya Google yang bisa menjadi publisher iklan tapi sekarang siapa saja yang menggunakan layanan AdSense bisa menjadi publisher iklan. Mereka menemukan model bisnis baru, dimana untuk pertanyaan no 1 dapat dengan jelas disebutkan yaitu para pengiklan di Google (AdWord).

Mereka tak perlu lagi membuat aplikasi iklan sendiri, semua sudah disediakan oleh Google, mereka tak perlu keluar dana tambahan fixed-cost.

Demikian juga sekarang dengan Facebook. Kalau ada calon pemain baru dalam bisnis social-media lantas mereka berpikir untuk membangun komunitas sendiri maka mereka akan butuh resource yang sangat besar dan waktu yang cukup lama.

Kini dalam era networked-economy dimana paradigma ekonomi sudah bergerak ke arah jaringan, dimana resource yang sifatnya umum akan cenderung dioperasikan sebagai layanan dimana pihak lain dapat memanfaatkannya.

Facebook memiliki aplikasi yang sudah dioperasikan sebagai layanan yang memungkinkan kita untuk dapat memanfaatkan data pelanggan yang dimiliki oleh Facebook. Aplikasi tersebut bernama Facebook Connect.

Dengan adanya fasilitas Facebook Connect maka user Facebook seluruh dunia yang mencapai 175 juta user bisa dimanfaatkan kekayaan datanya yang sudah tersegmentasi dengan rapi. Kita bisa melakukan segmentasi dengan sangat efektif sekaligus efisien.

Dengan demikian untuk pertanyaan no 1 bisa dijawab dengan sangat jitu.

Untuk pertanyaan no no 2 banyak sekali ide yang dapat diimplementasi mengingat pasarnya luas dan segmentasi yang jelas. Salah satu contohnya yang dapat saya gambarkan adalah bisnis pariwsiata dengan pasar pengguna Facebook diseluruh dunia.

Apa yang ada selama ini terlihat untuk konteks Indonesia masih berupa iklan iklan didalam Facebook yang mengarah keluar Facebook. Value yang diberikan masih kecil menurut saya. Orang tidak suka diforward keluar dan lebih nyaman tetap berada dalam platform yang sama (Facebook).

Value yang lebih besar dapat diberi dengan cara membangun aplikasi dalam platform Facebook. Jumlah aplikasi yang kini berjalan di atas platform Facebook mencapai 52.000 aplikasi yang dibangun oleh 660.000 yang tersebar di 180 negara. Ada 140 aplikasi baru setiap hari yang dibangun dalam platform Facebook. Sebuah monumen paradigma networked-economy.


Facebook Sebagai Intranet Korporasi

23 Februari 2009

Dalam artikel “The New Corporate Intranet, Web 2.0 Style“, yang ditulis oleh  Joe McKendrick, dipaparkan bagaimana sebuah perusahaan yang memiliki 800 karyawan yang tersebar di seluruh dunia menggantikan aplikasi intranet perusahaan mereka dengan Facebook.

Sebuah langkah yang berani mengingat Facebook tidak dikonstruksi untuk pengguna korporasi. Tapi rupanya penerapan arsitektur SOA membuat Facebook menjadi flexible untuk diintegrasikan dengan berbagai aplikasi pihak ke tiga yang menggunakan Facebook sebagai platform.

Kemudian penulis buku terkenal Nicholas Carr berpendapat kebanyakan organisasi menggunakan teknologi TI untuk keperluan formal organisasi dan mengabaikan keperluan informalnya. Para karyawan terfokus pada penggunaan aplikasi tradisional seperti Email, PowerPoint, atau Excel.

Walhasil menurut Nick informasi yang sangat berguna yang beredar didalam organisasi tidak pernah tertangkap atau tersebarkan ke dalam organisasi. Sementara aplikasi Social Network memang dirancang untuk menangkap informasi yang informal.

Organisasi bergerak secara formal tapi bernafas secara informal. Berikut adalah pernyataan Presiden dan CEO Serena, Jeremy Burton:

The bottom line is: You can’t really keep your employees away from social media. They’re going to do it anyway, even at work. If you don’t give them options to participate in social media on terms friendly to your company, you’re asking for trouble.”

Saya sependapat, sering saya amati teman teman sekelas yang ketika kuliah lebih senang membuka Facebook daripada SCeLE. Di Facebook materi kuliah dari internet bisa di post linknya kemudian di diskusikan sambil mendengarkan kuliah.

Burton dan Carr melihat Facebook sebagai model aplikasi Web2.0 yang dapat dimanfaatkan sebagai aplikasi Intranet dimana kelebihannya dengan Style 2.0 adalah fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh vendor dengan style ERP dari IBM atau SAP.

Memang aplikasi Social Network berbasis Web2.0 dan kelihatannya trend aplikasi Intranet kedepan akan menuju ke arah Web2.0 atau dikenal dengan istilah Entreprise2.0. Dengan contoh kasus diatas salah satu bukti bahwa trend ini semakin kuat. Arsitekur SOA yang diadopsi oleh Facebook membuat perkembangannya sangat pesat hingga dilirik pengguna korporasi.

Kritik saya pada artikel ini adalah tidak diulasnya kekurangan Social Network seperti Facebook tentang cara mencari kembali informasi yang telah ditangkap tadi. Facebook memang mudah menangkap informasi tapi tidak mudah memunculkannya kembali. Saya yakin perbaikan akan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara itu apakah kita tetap akan menggunakan aplikasi tradisional?