Masa Depan Social Media Dalam Lima Era

24 Mei 2009

Berharap Groundswell berlanjut, dimana orang orang saling terhubung ketimbang antar institusi. Pengunaan Social-media oleh pengguna Internet meningkat begitu pesat, berbagai perusahaan juga mengadopsi bahkan pada saat resesi, jadi berharap akan ada inovasi baru yang sesuai dengan tren ini. Klien dapat mengakses laporan ini disini, tetapi sebagai ringkasan atas apa yang kami temukan, dalam Executive Summary kami nyatakan:

Dewasa ini pengalaman masyarakat dalam menggunakan Social-media belum terpadu karena pengguna Social-media memiliki identitas terpisah di masing-masing jaringan sosial yang mereka kunjungi. Seperangkat teknologi yang memungkinkan sebuah identitas menjadi portabel akan dapat memberdayakan pengguna social-media masuk ke dalam transformasi pemasaran, e-Commerce, CRM, dan iklan.

Identitas hanyalah awal transformasi ini, di mana Web akan berkembang langkah demi langkah dari “situs sosial” yang terpisah menjadi “situs sosial” yang terpadu. Pengguna Internet akan bergantung pada rekan-rekan mereka karena mereka membuat keputusan secara online, tanpa bergantung apakah perusahaan pemilik produk berpartisipasi pada “situs sosial” itu atau tidak.

Pengguna Internet yang terhubung dalam Social-media akan membuat komunitas pelanggan menjadi kuat dan menggeser dominasi tirani perusahaan dengan CRMnya,  ini akhirnya akan menghasilkan pemberdayaan masyarakat dalam menentukan generasi selanjutkan dari sebuah produk.

Kami menemukan bahwa teknologi memicu perubahan cara belanja pelanggan, produk akan mengikuti, hasilnya adalah lima gelombang yang terdiri dari:

Lima Era dari Social Web:

  1. Era Social Relationships:  Orang menggunakan Social-media untuk saling terhubung ke orang lain dan saling berbagi informasi.
  2. Era Social Functionality:  Social-media menjadi seperti sistem operasi dengan aplikasi sosial, namun identitas masih belum terpadu.
  3. Era Social Colonization: Identitas sudah terpadu dan setiap transaksi dapat diketahui karena terhubung ke dalam jaringan aplikasi sosial.
  4. Era Social Context:  Pada era ini sebuah situs sosial dapat memberikan layanan sesuai dengan konteks pelanggannya. Social-media akan menjadi platform untuk semua layanan TI.
  5. Era Social Commerce: Ini era dimana masyarakat dapat menentukan bagaimana masa depan sebuah produk atau layanan.

Update: Majalah CRM menjelaskan lebih banyak tentang lima era ini dengan fokus pada gambar dibawah.

Lima Era Social-Web

Lima Era Social-Web

Rentang waktu dari Lima Era:

Perlu diketahui bahwa era-era itu tidak berurutan, tapi mereka tumpang tindih. Kita telah memasuki dan mengalami kematangan dari era Social Relationships, juga telah masuk ke era Social Functionality namun belum benar benar terutilisasi, dan mulai masuk ke era Social Colonization dengan teknologi awal seperti Facebook Connect. Identitas terpadu ini akan segera memberdayakan masyarakat untuk memasuki era Social Context dengan personalisasi konten. Diagram berikut ini menunjukkan bagaimana kita akan melihat era era tersebut di masa depan dengan Social Commerce sebagai era terjauh.

Rentang Waktu Lima Era

Rentang Waktu Lima Era

Wawancara dengan 24 perusahaan teratas yang menggunakan Social-media:
Penelitian ini bukan dilakukan tanpa responden, itulah sebabnya kami melakukan penelitian kualitatif untuk mengetahui apa yang kami duga. Kami sampai pada kesimpulan ini berdasarkan wawancara dengan eksekutif, manajer produk, dan strategists pada 24 perusahaan berikut: Appirio, Cisco Eos, Dell, Facebook, Federated Media Publishing, Flock, Gigya, Google (Open Social/stack team), Graphing Social Patterns (Dave McClure), IBM (SOA Team), Intel (social media marketing team), KickApps, LinkedIn, Meebo, Microsoft (Live team), MySpace, OpenID Foundation (Chris Messina), Plaxo, Pluck, Razorfish, ReadWriteWeb, salesforce.com, Six Apart, dan Twitter.

Bagaimana sebuah produk/layanan harus disiapkan.

Apa yang menarik adalah bukan visinya, melainkan apa yang membuat produk/layanan kita tetap bertahan, dimana hasilnya adalah, perusahaan harus mempersiapkan diri dengan:

  • Don’t Hesitate: Perubahan datang begitu cepat, dan kita telah berada di era ke tiga pada akhir tahun ini. Perusahaan harus mempersiapkan diri dengan melakukan perencanaan jangka pendek untuk era sekarang. Jangan tertinggal dan membiarkan kompetitor terhubung dengan masyarakat pengguna Social-media sebelum anda melakukannya.
  • Prepare For Transparency: Orang-orang akan dapat menjelajahi web bersama teman-teman mereka, karenanya anda harus memiliki rencana. Mempersiapkan setiap halaman web dan produk yang akan direview oleh pelanggan anda dan terlihat oleh prospek, bahkan jika anda memilih untuk tidak berpartisipasi.
  • Connect with Advocates: Fokus pada pelanggan yang fanatik, mereka dapat membela produk anda dari para penghujat. Pendapat mereka lebih dipercaya, dan ketika kekuasaan bergeser ke komunitas, dan mereka mulai menentukan bagaimana seharusnya sebuah produk, maka mereka menjadi lebih penting dari segalanya.
  • Evolve your Enterprise Systems: Sistem perusahaan anda perlu melakukan koneksi ke Social-media. Jaringan Social-media dengan cepat berubah menjadi sumber informasi pelanggan melampaui sistem CRM perusahaan anda. Sistem CMS perlu memiliki fitur Social-media, desak vendor anda untuk menyediakan ini atau bergabung dengan komunitas Social-media.
  • Shatter your Corporate Website: Pada masa depan yang paling radikal, konten akan datang ke konsumen -ketimbang mereka mencari konten- siap siap merombak website perusahaan anda dan biarkan isinya terdistribusi ke Social-media. Biarkan informasi yang paling penting menyebar ke masyarakat.
Jeremiah Owyang

Jeremiah Owyang

Artikel ini adalah terjemahan dari artikel Jeremiah Owyang yang berjudul “The Future of the Social Web: In Five Eras“, Jeremiah adalah seorang analis senior di Forrester.com yang tulisannya banyak dirujuk sebagai referensi untuk bidang strategi web. Forrester Research, Inc adalah sebuah lembaga penelitian indenpen yang telah listing di NASDAQ. Fokus penelitian Owyang adalah bidang social computng industry.


Akhir Semester Tiga

23 Mei 2009
Science Park

Science Park

Tak terasa kuliah sudah menginjak akhir semester tiga.  Padahal rasanya baru kemarin kami berkutat dalam tugas yang bikin stress. Sebentar lagi saya bakal jarang bertemu dengan temen temen sekelsa. Bahkan bagi yang sudah ambil tesis di semester tiga ini dan insyallah mereka maju ujian bulan juli maka jika lulus kita akan berpisah. Jadi akhir semester tiga ini sessungguhnya akhir perkualiahan kita, karena semster 4 cuma ada tesis.

Dipenghujung semester tiga ini kami sempatkan foto foto walaupun tidak diikuti oleh keseluruhan mahasiswa kelas 2007 FA. Berikut beberapa foto fotonya.

Jembatan

Fasilkom UI

Fasilkom UI

Kamera: Kodak Z1012

Kamera: Kodak Z1012

Makan sebelum pulang

Makan di Saung Mang Engking sebelum pulang


Coopetition Dalam Network-Economy

30 Maret 2009
Coopetition

Coopetition

Pada tulisan saya yang lalu tentang business model dalam era network-economy disinggung tentang Facebook. Tulisan itu lebih banyak memaparkan fenomena ketimbang menjelaskan konsep. Kali ini saya ingin lebih banyak mengulas tentang konsep dan strategi persaingan bisnis online di era network-economy.

Strategi memenangkan persaingan dalam era network-economy tidak cukup lagi dilihat hanya dengan 5 aspek kekuatan bersaing yang dikemukakan oleh Michael E. Porter.

Lima kekuatan bersaing itu antara lain si pelaku bisnis, kompetitor, pemasok, subtitusi dan konsumen. Kekuatan yang ke enam adalah komplementer. Untuk menjelaskan ini kita mulai dari awal.

***

Peran dari kemajuan teknologi informasi memaksa dunia usaha mengalami perubahan dimana sebuah bisnis dapat memberikan value yang lebih besar dengan melakukan kerja sama antara dua atau lebih perusahaan ketimbang dilakukan oleh hanya satu perusahaan yang menguasai seluruh lini layanan.

Dengan kerja sama antar perusahaan ini skala bisnis untuk masing masing pemain menjadi lebih kecil dan bidang bisnis menjadi lebih spesifik membuat model bisnis menjadi harus dinyatakan dengan lebih terperinci. Monopoli juga semakin sulit terjadi karena tidak ada lagi yang bisa melakukannya.

Kerja sama antar dua perusahaan atau lebih, dipicu oleh keinginan untuk dapat memenangkan persaingan dengan menciptakan nilai tambah (value-creation) sebagai buah dari kerja sama tersebut. Jadi disini ada dua kata kunci “bekerja sama” dan “bersaing”, yang sejatinya berseberangan.

Dari sinilah konsep coopetition strategy lahir. Gabungan antara competitive dan cooperative. Adalah Brandenburger dan Nalebuff yang mempopulerkan lewat bukunya Co-opetition tahun 1997.

Lalu bagaimana dua paradigma yang berseberangan ini dapat disatukan menjadi sebuah strategi?

Untuk menjelaskan itu dapat ditelusuri kembali dari fenomena pesatnya kemajuan TI yang memungkin proses bisnis dipecah-pecah dan mampu berdiri sendiri untuk dapat melayani proses dari bisnis yang berbeda.

Saya akan beri contoh. Dahulu kala kita tidak mengenal PC rakitan, tahun 80an jika kita butuh sebuah PC maka pilihannya hanya ada IBM PC, yang seluruh komponen baik hardware maupun software dibuat oleh satu perusahaan, yakni IBM.

Kini jangankan PC rakitan, PC ber-merk-pun komponennya tidak dibuat oleh satu perusahaan tapi merupakan produk dari berbagai macam perusahaan yang tersebar secara geografis. Contohnya adalah perusahaan komputer Dell Inc yang memperkenalkan pendekatan “configure to order“. Sebuah value added yang mampu ditawarkan Dell tapi tidak oleh pesaingnya kala itu.

Kerjasama yang dilakukan menekan fixed-cost yang sangat besar yang harus dikeluarkan oleh pemain yang berdiri sendiri. Contoh diatas dapat dilihat sebagai bentuk hubungan konsumen dan pemasok yang biasanya dijalin dalam bentuk kerjasama rekanan.

Pemain dalam rantai proses bisnis tidak harus dalam bentuk rekanan konsumen-pemasok tapi bisa dalam bentuk komplementer (pelengkap). Prinsipnya dapat memberikan nilai tambah. Contoh klasik dari Brandenburger dan Nalebuff adalah Intel dan Microsoft. Hubungan mereka bukan antar pemasok dan konsumen tapi hanya sebagai komplementer.

Tapi justru komplementer inilah yang menjadi ciri utama network-economy. Para pemain komplementer dituntut untuk dapat berperan cooperative, karena komplementer ada dalam proses bisnis yang memiliki model bisnis yang berbeda. Sedangkan bila model bisnisnya sama maka sikap yang dituntut adalah cooperative sekaligus competitive atau dikenal dengan coopetition.

Contoh komplementer dalam industri web antara lain:

  • Amazon dan Fedex
  • Ebay dan Paypal
  • Google Apps dan GoDaddy
  • PHP dan MySQL
  • WordPress dan MyBlogLog
  • Firefox dan Shockwave Flash

Masing masing memiliki model bisnis yang berbeda tapi saling melengkapi satu sama lain untuk dapat memberikan value lebih kepada konsumennya. Kekuatan kerjasama ini meningkatkan keunggulan bersaing untuk mereka semua.

Sedangkan untuk model bisnis yang sama sehingga muncul strategi coopetition perlu dijelaskan terlebih dahulu tipe tipe coopetition.

Dalam coopetition ada bekerja-sama dan bersaing. Karena para pemain kerjasama adalah juga sekaligus para pesaing maka dalam bekerjasama ada beberapa hal yang perlu dicermati untuk bisa di-komitmen-kan guna mencapai hasil kolaborasi yang istilahnya positive-sum game. Sebab jika salah menentukan komitmen maka hasilnya justru sebaliknya. Menurut Garraffo ada dua level komitmen yang membentuk 4 kuadran.

Market
Creation
High Standard setting Business integration
Low Knowledge exchange Cooperative R&D
Low High
Technology
Developments

Sumbu vertikal mencerminkan level komitmen penciptaan pasar sedangkan sumbu horisontal mencerminkan level komitmen pengembangan teknologi. Masing masing kuadran memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan berasal dari tingkat komitmennya.

Dalam industri web komitmen untuk bekerja sama dapat dilihat dari seberapa dalam sebuah fitur bersedia di-share fungsionalitasnya. Caranya adalah dengan mengubah fitur menjadi layanan (services) dengan menyediakan fasilitas akses ke fungsi fungsi internal melalui Application Programming Interface (API).

Dalam membuka akses untuk komitmen kerjasama harus benar benar dicermati agar nantinya pengguna API tersebut akan menggunakannya sesuai dengan tujuan yaitu bisa benar benar menghasilkan nilai tambah.

Beberapa perusahaan memberikan aturan aturan khusus pada para pengguna API nya untuk menghindari hilangnya core-value layanan mereka akibat dari ulah competitor yang bermuka cooperative.

Sebagai contoh, Flickr yang dalam “Terms of Service“-nya memberikan syarat penggunaan API dari layanan mereka dilarang untuk:

Use Flickr APIs for any application that replicates or attempts to replace the essential user experience of Flickr.com

Ini adalah proteksi akan core-value dari layanan Flickr yang tak ingin tersaingi oleh competitor pengguna API mereka sendiri. Proteksi terhadap akses pesaing tidak hanya dalam bentuk TOS seperti Flickr tapi juga bisa langsung dalam bentuk kemampuan fitur API itu sendiri. Tidak semua kemampuan utama diberikan begitu saja.

Namun demikian ada juga yang berani memberikan hampir segalanya dengan pandangan bahwa komitmen yang total akan memberikan hasil yang luar biasa juga. Prinsipnya adalah untuk memenangkan persaingan bukan dengan bagaimana mengalahkan pesaing tapi bagaimana merangkul pesaing.

Dalam era network-economy, ini adalah cara pandang yang sangat relevan. Ada beberapa kasus dari industri web yang bisa dijadikan contoh.

Google

Google memiliki mesin uang dari iklannya yang context-sensitive. Mesin iklan yang mampu beriklan sesuai dengan konteks hasil pencarian sehingga iklannya sangat efektif karena membidik segmen yang tepat.

Kemudian untuk memperluas pasar Google meluncurkan layanan AdSense yang memungkinkan situs web lain selain Google menjadi publisher iklan Google lengkap dengan kemampuan segmentasinya.

Dari satu sisi mungkin Google sebenarnya memberikan fasilitas bagi kompetitornya tapi dari sisi lain Google dan para publisher AdSense membuka pasar yang lebih luas. (contoh dari kuadran high-market low-development)

Walau pernah tercatat Google melarang ada iklan lain selain AdWord dihalaman publisher AdSense, namun sekarang kebijakan itu telah dihapus. Komitmen ditingkatkan untuk hasil yang lebih besar.

Facebook

Facebook adalah contoh terbaik untuk komitmen berbagi layanan. Pihak ketiga dapat membangun aplikasi diatas platform Facebook dengan fasilitas yang sama dengan developer internalnya.

Developer eksternal diberi kesempatan yang sama bahkan dalam pengembangan fitur fitur baru. Facebook sangat memperhatikan masukan masukan dari para pengembang third-party-nya. Ini adalah komitmen pengembangan teknologi.

Kemudian untuk komitmen penciptaan pasar Facebook memiliki layanan FB Connect yang memungkinkan situs web lain menggunakan database user mereka yang kini mencapai 175 juta user untuk di akses oleh pihak ketiga. (contoh dari kuadran high-market high-development)

Komitmen Facebook memperluas jangkauan pasar ini sungguh mengkhawatirkan para pesaingnya hingga mereka (Google-Yahoo-AIM-OpenID) berkolaborasi untuk menandingi FB Connect dengan meluncurkan layanan Google Friend Connect.

Google Friend Connect adalah layanan yang memungkinkan user dari masing masing portal tersebut menggunakan hanya satu account untuk login ke semua layanan portal.

Tapi sekali lagi seberapa jauh komitmen akan mempengaruhi hasilnya. Facebook tidak takut kehilangan core-value, terbukti dari keleluasaan pihak ketiga untuk mengembangkan aplikasi apapun diatas platform Facebook, bahkan pihak ketiga boleh membangun aplikasi social-media sekalipun yang tentu saja akan menjadi pesainganya.

Sebuah bisnis akan memiliki kekuatan bersaing yang tinggi apabila mampu memanfaatkan kekuatan network-economy ini. Tidak perlu re-invent the wheel untuk hal hal yang telah bisa disediakan oleh pemain lain dengan sangat baik. Manfaatkan mereka untuk keuntungan kita.

Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Apakah para pemain bisnis online di Indonesia sudah mengadopsi strategi coopetition, atau paling tidak sudahkah mereka berpikir secara komplementer, atau jangan jangan mereka masih hidup di era industrial-economy?

Tunggu artikel saya selanjutnya…


Business Model Dalam Era Network-Economy

1 Maret 2009
Facebook

Facebook

Seorang teman bertanya pada saya bisnis online apa yang bisa sukses di Indonesia sekarang ini. Saya tak bisa menjawab itu dengan satu paragraf. Banyak faktor yang mempengaruhi sebuah bisnis online bisa profit. Salah satunya adalah business model.

Saya ingin elaborasi sedikit dari sudut pandang yang lebih spesifik TI berkaitan juga dengan pertanyaan teman saya diatas tentang peluang bisnis online di Indonesia.

Melihat sifat sifat TI yang border-less dan sangat cepat perubahannya maka business model dalam bisnis online menjadi harus dituliskan dengan sangat spesifik dan jelas. Seberapa jelasnya dapat dilihat dari jawaban atas 4 pertanyaan yang menjadi unsur pembentuk business model.

business model paling tidak harus bisa menjawab 4 pertanyaan berikut:

  1. Siapa customer kita dan apa harapannya
    • Jawabannya harus sedetil mungkin hingga mencapai segmentasi
  2. Value apa yang kita berikan
    • Jawabannya harus sedetil mungkin hingga mencapai diferensiasi
  3. Dari mana datangnya revenue
    • Harus bisa diidentifikasi siapa dan bagaimana hubungan antara direct-customer dan indirect-customer
  4. Bagaimana revenue itu datang
    • Revenue model

Setelah business model ditentukan, baru kita bisa melihat siapa kompetitor kita dan siapa bukan, menentukan positioning kita dan tentu saja peluang akan terlihat dengan lebih jelas dalam state ini.

Jika dari ke empat pertanyaan diatas antara dua bisnis menghasilkan jawaban yang sama maka baru bisa dikatakan kedua bisnis tersebut bersaing secara head-to-head.

Dalam bisnis konvensional kemungkinan untuk terjadi head-to-head relatif lebih besar. Tapi dalam bisnis online dimana peran TI sangat dominan membuat kemungkinan terjadinya persaingan head-to-head menjadi lebih kecil, bahkan selalu saja ada cara yang ditemukan untuk membuat perbedaan business model.

Walhasil ragam business model menjadi mirip mirip atau bahkan banyak yang tidak jelas. Untuk membuat sebuah business yang benar benar jelas dibutuhkan inovasi.

Untuk dapat menjelaskan bagaimana TI dapat menjadi enabler terutama dalam bisnis online dengan konteks Indonesia maka saya akan tampilkan beberapa analisis tentang situs teratas dan kaitannya dengan business model

Data kualitatif dapat saya katakan sekarang layanan aplikasi social-media sedang booming dan tak bisa dikatakan selain Facebook, karena memang hanya Facebook.

Salah satu indikasinya dapat dilihat misalnya di kampus UI, seperti yang ditulis di Blog AnakUI.com:

Kenapa harus Facebook? Tentu saja, karena anak-anak UI yang pake Facebook itu jumlahnya udah nggak kehitung lagi.. Hari gini masihkah ada yang make Friendster? Rasanya mahasiswa kaya kita mah lebih prefer pake Facebook kan ya?

Data kuantitatif yang memperkuat statement ini adalah dari Alexa.com:

Dari pencarian khusus untuk negara Indonesia dapat dilihat hit top 100, saya kutipkan 15 besar saja. Data diakses pada hari Kamis, 26 Februari 2009.

  1. Yahoo.com (search-engine)
  2. Google.co.id (search-engine)
  3. Facebook (social-media)
  4. Google.com (search-engine)
  5. Friendster (social-media)
  6. Blogger (blog-hosting)
  7. YouTube (video-hosting)
  8. WordPress (blog-hosting)
  9. Detik.com (berita)
  10. Kaskus.us (forum)
  11. RapidShare (file-hosting)
  12. Wikipedia (knowledge)
  13. Travian.com (game)
  14. MSN.com (OS support)
  15. Multiply (blog-hosting)

Dua urutan teratas masih dipegang oleh bisnis search-engine yang memang tak bisa dijalankan oleh pemain biasa.

Sedangkan urutan ketiga dipegang oleh Facebook dari bisnis social-media. Urutan keempat kembali dipegang oleh bisnis search-engine, kemudian urutan kelima social-media Friendster.

Artinya lima besar hanya dikuasai oleh dua jenis bisnis tadi. Selanjutnya untuk jenis bisnis blog-hosting baru muncul di urutan ke 6 dan 8, bisnis video-hosting di urutan ke 7, bisnis berita baru muncul di urutan ke 9, forum diskusi urutan ke 10.

Antara satu bisnis dengan bisnis yang lain mungkin tidak head-to-head tapi tetap memiliki persamaan pada beberapa poin pertanyaan tentang business-model diatas. Katakanlah blogging sejak munculnya Plurk.com, dunia blogging jadi agak lesu, di pestablogger 2008 saya bertemu Priyadi, blogger senior dan dia mengatakan sejak main plurk jadi tidak sempat blogging lagi.

Kemudian Pak Made Wiryana menulis di Multiply:

Apakah dg makin populernya Facebook dan makin merakyatnya Blackberry yang ada Facebook mobile (he he he rakyat mana ya ?), akan menyebabkan makin sepinya multiply ?

Disebutkan disitu ada BlackBerry, itu adalah komponen dari jawaban pertanyaan nomor 2 untuk business model. Ada diferensiasi pada value yang dimiliki Facebook.

Dari data diatas kita tahu bahwa bisnis social-media adalah bisnis yang sangat diminati.

Dari semua bisnis pada daftar top 15 di atas yang foundernya orang Indonesia hanya Kaskus dan Detik. Mereka seperti kita tahu telah mulai sejak lama dan sekarang telah memiliki basis komunitas sebagai aset yang sangat berharga.

Bisnis blog-hosting di Indonesia tercatat ada dua pemain besar, blogdetik.com dan dagdigdug.com.

Untuk pertanyaan business model no 1:

Blogdetik.com memanfaatkan positioning pembaca detik.com.
Sedangkan dagdigdug.com memanfaatkan jaringan dan popularitas foundernya salah satunya adalah Enda Nasution (bapak blogger) yang komunitasnya dibangun sejak pestablogger 2007.

Jika ada calon pemain baru sudahkah memikirkan segmentasinya? Komunitas apa yang disasar?

Ingat bahwa sungguhpun mereka berdua telah memiliki positioning tersendiri tapi tetap urutan mereka di bisnis blog-hosting masih jauh dibawah Blogger dan WordPress.

Menarik untuk bisnis social-media karena jawaranya (Facebook) berada di posisi ke tiga, artinya pasarnya sangat besar. Business model Facebook sampai sekarang masih menjadi perdebatan para ahli manajemen.

Disinilah menariknya bisnis ini menurut saya, kita bisa mengembara dalam rimba ketidak jelasan business model sambil mengintip kemungkinan meraih peluang yang tak dicermati oleh pihak lawan.

Kalau saya katakan model bisnis social-media yang sukses itu adalah Facebook lantas apakah kalau kita memiliki software yang benar benar sama persis maka apakah kita bisa sukses seperti Facebook?

Layanan yang bisa diberikan oleh software aplikasi selama ini lebih dipandang hanya menjadi jawaban dari pertanyaan business model no 2 (value). Sedangkan masih ada 3 pertanyaan lagi yang menjadi faktor lain yang penting yang sebenarnya dapat berubah dengan kecanggihan software aplikasi.

Sebagai contoh dulu hanya Google yang punya aplikasi untuk menjadi publisher iklan mereka, tapi kemudian setelah Google meluncur sebuah aplikasi bernama AdSense sebagai sebuah layanan maka business model iklan online berubah.

Dulu hanya Google yang bisa menjadi publisher iklan tapi sekarang siapa saja yang menggunakan layanan AdSense bisa menjadi publisher iklan. Mereka menemukan model bisnis baru, dimana untuk pertanyaan no 1 dapat dengan jelas disebutkan yaitu para pengiklan di Google (AdWord).

Mereka tak perlu lagi membuat aplikasi iklan sendiri, semua sudah disediakan oleh Google, mereka tak perlu keluar dana tambahan fixed-cost.

Demikian juga sekarang dengan Facebook. Kalau ada calon pemain baru dalam bisnis social-media lantas mereka berpikir untuk membangun komunitas sendiri maka mereka akan butuh resource yang sangat besar dan waktu yang cukup lama.

Kini dalam era networked-economy dimana paradigma ekonomi sudah bergerak ke arah jaringan, dimana resource yang sifatnya umum akan cenderung dioperasikan sebagai layanan dimana pihak lain dapat memanfaatkannya.

Facebook memiliki aplikasi yang sudah dioperasikan sebagai layanan yang memungkinkan kita untuk dapat memanfaatkan data pelanggan yang dimiliki oleh Facebook. Aplikasi tersebut bernama Facebook Connect.

Dengan adanya fasilitas Facebook Connect maka user Facebook seluruh dunia yang mencapai 175 juta user bisa dimanfaatkan kekayaan datanya yang sudah tersegmentasi dengan rapi. Kita bisa melakukan segmentasi dengan sangat efektif sekaligus efisien.

Dengan demikian untuk pertanyaan no 1 bisa dijawab dengan sangat jitu.

Untuk pertanyaan no no 2 banyak sekali ide yang dapat diimplementasi mengingat pasarnya luas dan segmentasi yang jelas. Salah satu contohnya yang dapat saya gambarkan adalah bisnis pariwsiata dengan pasar pengguna Facebook diseluruh dunia.

Apa yang ada selama ini terlihat untuk konteks Indonesia masih berupa iklan iklan didalam Facebook yang mengarah keluar Facebook. Value yang diberikan masih kecil menurut saya. Orang tidak suka diforward keluar dan lebih nyaman tetap berada dalam platform yang sama (Facebook).

Value yang lebih besar dapat diberi dengan cara membangun aplikasi dalam platform Facebook. Jumlah aplikasi yang kini berjalan di atas platform Facebook mencapai 52.000 aplikasi yang dibangun oleh 660.000 yang tersebar di 180 negara. Ada 140 aplikasi baru setiap hari yang dibangun dalam platform Facebook. Sebuah monumen paradigma networked-economy.


Facebook Sebagai Intranet Korporasi

23 Februari 2009

Dalam artikel “The New Corporate Intranet, Web 2.0 Style“, yang ditulis oleh  Joe McKendrick, dipaparkan bagaimana sebuah perusahaan yang memiliki 800 karyawan yang tersebar di seluruh dunia menggantikan aplikasi intranet perusahaan mereka dengan Facebook.

Sebuah langkah yang berani mengingat Facebook tidak dikonstruksi untuk pengguna korporasi. Tapi rupanya penerapan arsitektur SOA membuat Facebook menjadi flexible untuk diintegrasikan dengan berbagai aplikasi pihak ke tiga yang menggunakan Facebook sebagai platform.

Kemudian penulis buku terkenal Nicholas Carr berpendapat kebanyakan organisasi menggunakan teknologi TI untuk keperluan formal organisasi dan mengabaikan keperluan informalnya. Para karyawan terfokus pada penggunaan aplikasi tradisional seperti Email, PowerPoint, atau Excel.

Walhasil menurut Nick informasi yang sangat berguna yang beredar didalam organisasi tidak pernah tertangkap atau tersebarkan ke dalam organisasi. Sementara aplikasi Social Network memang dirancang untuk menangkap informasi yang informal.

Organisasi bergerak secara formal tapi bernafas secara informal. Berikut adalah pernyataan Presiden dan CEO Serena, Jeremy Burton:

The bottom line is: You can’t really keep your employees away from social media. They’re going to do it anyway, even at work. If you don’t give them options to participate in social media on terms friendly to your company, you’re asking for trouble.”

Saya sependapat, sering saya amati teman teman sekelas yang ketika kuliah lebih senang membuka Facebook daripada SCeLE. Di Facebook materi kuliah dari internet bisa di post linknya kemudian di diskusikan sambil mendengarkan kuliah.

Burton dan Carr melihat Facebook sebagai model aplikasi Web2.0 yang dapat dimanfaatkan sebagai aplikasi Intranet dimana kelebihannya dengan Style 2.0 adalah fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh vendor dengan style ERP dari IBM atau SAP.

Memang aplikasi Social Network berbasis Web2.0 dan kelihatannya trend aplikasi Intranet kedepan akan menuju ke arah Web2.0 atau dikenal dengan istilah Entreprise2.0. Dengan contoh kasus diatas salah satu bukti bahwa trend ini semakin kuat. Arsitekur SOA yang diadopsi oleh Facebook membuat perkembangannya sangat pesat hingga dilirik pengguna korporasi.

Kritik saya pada artikel ini adalah tidak diulasnya kekurangan Social Network seperti Facebook tentang cara mencari kembali informasi yang telah ditangkap tadi. Facebook memang mudah menangkap informasi tapi tidak mudah memunculkannya kembali. Saya yakin perbaikan akan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara itu apakah kita tetap akan menggunakan aplikasi tradisional?


Perencanaan Infrastruktur TI

27 Oktober 2008

Anda bekerja di kantor atau sebuah organisasi? Lingkungan tempat kita bekerja tentu telah banyak didukung oleh perangkat TI seperti jaringan komputer, sistem operasi, data center,  server dll. Peralatan tersebut tidak sembarangan dipilih atau difungsikan tapi harus direncanakan dengan baik agar dapat memberikan hasil yang ideal.

Dukungan infrastruktur TI yang baik akan memberikan kontribusi pada percepatan pencapaian tujuan organisasi, sebaliknya jika infrastrukturnya tidak baik justru bisa menghambat pencapaian tujuan. Bahkan lebih dari itu, dengan infrastruktur TI yang baik dapat menjadi key enabler bagi perkembangan organisasi.

Apa itu key enabler dan bagaimana kita menata dan merencanakan infrastruktur TI yang baik butuh pengetahuan yang meliputi:

I. Perencanaan infrastruktur aplikasi perusahaan:

  • Identifikasi komponen-komponen infrastruktur TI suatu perusahaan dan pembakuannya.
  • Memadukan kebutuhan strategis organisasi, tren teknologi, dan standar industri (best practices).
  • Berorientasi pada arsitektur aplikasi perusahaan.

II. Pengelolaan tingkat layanan (service level) TI perusahaan:

  • Fokus pada daur hidup infrastruktur TI perusahaan.
  • Aspek-aspek tingkat layanan: kapasitas & skalabilitas, ketersediaan & keandalan, dan keamanan.
  • Perencanaan dan pengukuran kapasitas infrastruktur.
  • Prosedur-prosedur pengelolaan infrastruktur berdasarkan best practices.

Tapi sebelum membahas lebih lanjut saya ingin memaparkan terlebih dahulu tentang definisi infrastruktur. Kalau kita mendengar kata infrastruktur apa yang terbayang? Jalan raya, listrik PLN, jembatan, saluran PAM, jaringan kabel Telkom dan segala hal yang sifatnya fisik dan menjadi dasar bagi penggunaan alat alat yang lain diatasnya (suprastruktur).

Ada beberapa karakterisktik umum dari infrastruktur antara lain:

  • Pemakaiannya lebih luas dibanding struktur diatasnya (yang didukungnya).
  • Lebih permanen/statis dibanding struktur diatasnya.
  • Terhubung secara fisik dengan struktur diatasnya.
  • Sering diperhitungkan sebagai servis/layanan pendukung.
  • Dimiliki dan dikelola oleh pihak yang berbeda dari struktur yang didukungnya.

Kemudian apa yang dimaksud dengan infrastruktur TI dapat dilihat dari gambar dibawah ini:

Jadi infrastruktur TI berjalan diatas infrastruktur publik seperti listrik, gedung dll. Dalam infrastruktur TI dapat dilihat tidak hanya terdiri dari perngakta keras tapi juga terdiri dari perangkat lunak seperti OS, aplikasi middleware dan database.

Kecenderungan infrastruktur semakin hari semakin merambat naik. Semakin banyak komponen perangkat lunak yang menjadi dasar bagi komponen perangkat lunak yang lain untuk dapat bekerja. Contohnya adalah library bahasa pemrograman. Template template design (theme) yang dapat digunakan oleh banyak aplikasi.

Bahkan trend sekarang ada yang disebut SOA (Service Oriented Architecture) yang menyediakan dirinya (aplikasi) untuk dapat digunakan secara bersama oleh aplikasi yang lain. Pengertian infrastruktur dalam TI sudah tidak lagi berarti sesuatu yang statik (hardware) tapi sudah menjadi sesuatu yang lebih fleksible (software).

Sekarang seperti apa infrastruktur TI yang ideal?

Dunia bisnis sekarang ini sudah semakin pervasive yang artinya tanpa TI maka kegiatan bisnisnya tak dapat berlangsung seperti database perbankan misalnya, atau sistem informasi akademik sebuah universitas. TI tidak hanya sudah menjadi key operational tapi juga sudah menjadi competitive advantage. Bank misalnya kalau jaringan ATMnya sering mati maka Bank tersebut akan kalah bersaing dengan Bank yang jaringan ATMnya lebih stabil dan lebih luas.

Masuknya TI dalam wilayah strategis ini membuat TI menjadi key enabler bagi perusahaan tersebut. Key enabler maksudnya menjadi kunci pemungkin terhadap sesuatu peluang bisnis yang baru. Contohnya sebuah perusahaan besar yang ingin mengakuisisi atau merger perusahaan pesaingnya yang memiliki sistem TI yang berbeda maka jika sistem TI mereka tidak dapat diselaraskan supaya dapat bekerja sama maka akuisisi/merger tersebut tidak dapat dilakukan yang berarti hilangnya peluang bisnis.

Disinilah pentingnya merencanakan infrastruktur TI yang fleksible sebab TI itu bisa menjadi kendala sekaligus juga bisa menjadi peluang. Ada beberapa motivasi kenapa kita harus memiliki infrastruktur TI yang ideal:

Motivasi: key enabler

  • Teknologi Informasi (TI) adalah key enablerperusahaan untuk merealisasikan strategi bisnisnya.
  • Strategi bisnis adalah sesuatu yang dinamis: sewaktu-waktu berubah.
  • TI harus dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan strategis perusahaan:
    • Unit bisnis atau layanan baru
    • Kantor cabang baru
    • Restrukturisasi organisasi, dsb.

Motivasi: adaptiveness

  • Kecepatan mengimplementasikan perubahan adalah persyaratan strategis.
  • TI harus dibuat fleksibel untuk dapat mengakomodasi perubahan secara cepat dan efisien.
  • Kunci: infrastruktur TI yang adaptif.
  • Mengapa infrastruktur?
    • Infrastruktur dapat menjadi kendala atau membuka peluang inisiatif bisnis.

Kita melihat perusahaan operator telpon selular berlomba lomba mengadopsi terknologi terbaru seperti 3G, 3.5G dst. Padahal pasar belum siap memanfaatkan teknologi baru tersebut, ini karena mereka ingin memiliki infrastruktur TI yang adaptif kedepan guna meraih peluang peluang bisnis baru, bisa lewat konten atau berbagai inovasi lain dikemudian hari.

Adaptiveness dari sebuah infrastruktur TI dapat diukur dari:

  • Time to Market: kecepatan implementasi layanan baru.
  • Scalability: mampu mengakomodasi peningkatan penggunaan/beban.
  • Extensibility: kemudahan menambah komponen baru.

Kemudian ciri dari infrastruktur TI yang adaptif:

  • Efisien: Dengan tersedianya komponen-komponen yang dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai sistem aplikasi (lama & baru).
  • Efektif: Dengan komponen-komponen yang mudah dipadukan (interoperable) dan diintegrasikan.
  • Fleksibel (agile): Dengan komponen-komponen yang mudah dirombak, di-upgrade, atau diganti

Selain ciri di atas dapat dilihat dari:

  • Minimasi Kompleksitas
    • Minimasi biaya pengelolaan, termasuk penyediaan SDM.
    • Strategi: perencanaan komprehensif, arsitektur modular, penyeragaman, menghindari duplikasi.
  • Maksimasi Utilitas (Value)
    • Maksimasi return on investment.
    • Strategi: penggunaan ulang/bersama, penerapan open standards.

Setelah mengetahui infrastruktur yang ideal lalu bagaimana caranya mendapatkan infrastruktur TI yang ideal?

Jaman dulu kita kenal kalau aplikasi biasanya monolitik, satu buah source code menangani segala macam fungsi. Ini bukan startegi yang baik sebab pengembangan akan menjadi sulit karena tidak fleksibel. Strategi yan baik dengan memecah aplikasi besar menjadi sistem yang modular perlayanan fungsi. Dengan demikian sistem menjadi lebih adaptif.

Strategi untuk mencapai adaptiveness:

  • Complexity Partitioning:partisi arsitektur aplikasi ke dalam komponen-komponen yang dapat dikelola secara terpisah (modular).
  • Reusability: pemanfaatan ulang/silang komponen-komponen infrastruktur oleh berbagai layanan TI perusahaan.
  • Integration: pemanfaatan teknologi open standard yang memungkinkan integrasi antar komponen-komponen infrastruktur.

Permasalahan yang sering muncul ketika kita akan merencanakan sebuah infrstrusktur TI dalam sebuah organisasi adalah:

  • Infrastruktur sering tidak terencana dengan baik
    • Tidak merupakan bagian dari perencanaan strategi bisnis.
      CEO jarang ikut merencanakan infrstruktur, disinilah peran CIO dibutuhkan.
    • Juga tidak dilibatkan dalam perancangan aplikasi sejak awal.
    • Bersifat ad-hoc: sesuai dengan kebutuhan aplikasi-aplikasi baru, tanpa standarisasi.
  • Hasilnya: infrastruktur dengan kompleksitas tinggi, tidak terfokus, dengan biaya operasi dan pemeliharaan tinggi.

Solusi dari permasalahan ini dapat diuraikan dalam berapa poin:

  1. Merencanakan infrastruktur secara menyeluruh (holistic)
    • Mencakup seluruh perusahaan.
    • Mencakup berbagai tingkatan struktur.
  2. Juga mempertimbangkan kebutuhan infrastruktur dimasa depan
    • Mengakomodasi perubahan dan pertumbuhan.
  3. Memaksimasi penggunaan ulang dan silang (reuse) komponen infrastruktur (termasuk infrastruktur SDM).
  4. Memilih teknologi yang tepat
    • Menerapkan open-standardsuntuk menjamin interoperabilitas dan kebebasan dari keterikatan pada vendor.
    • Melihat kesesuaian dengan kebutuhan bisnis dan kesiapan/kemampuan organisasi mengadopsinya.
  5. Menerapkan prosedur baku dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur.
    • Platform: Kategori komponen-komponen dasar infrastruktur.
    • Pattern: Struktur sistem aplikasi yang melibatkan platform-platform.
    • Service: Layanan TI yang menyediakan fungsi-fungsi umum (dapat dipakai bersama).
  6. Menggunakan pola-pola tersebut sebagai template dalam perancangan infrastruktur, dengan lebih cepat dan efisien.
    • Perancangan berbasis pola memudahkan identifikasi komponen yang dapat dipakai bersama
      • Berdasarkan kesamaan pola antar aplikasi.
        Perhatikan bagian atas (stovepipes) dimana tiap tiap aplikasi memiliki infrastrukturnya sendiri sendiri sedangkan yang bagian bawah (pattern-based) semua aplikasi mengunakan infrastruktur yang sama.
  7. Menurut Robertson & Sribar komponen-komponen infrastruktur dapat digolongkan dalam tiga konsep sentral:

    Dalam pendekatan pattern-based dapat diidentifikasi beberapa pola aplikasi umum yang dapat digunakan sebagai acuan dalam merancang berbagai aplikasi perusahaan.

Untuk dapat membuat infrastruktur bersama dalam pattern-based , Robertson-Sribar menggunakan metodologi sbb:

Metodologi perencanaan infrastruktur TI.

  1. Inventarisasi/pendataan teknologi
    • Berdasarkan kategori system layer (lihat gambar diatas):
  2. Identifikasi dan pengembangan pattern-pattern (pola) arsitektur
    • Konfigurasi-konfigurasi standar yang banyak diterapkan (best practice) untuk berbagai sistem aplikasi.
    • Tiap pattern umumnya mempersyarat-kan satu set infrastruktur teknologi.
    • Menjadi acuan bagi pengembangan aplikasi atau layanan baru.
  3. Identifikasi dan pengembangan infrastruktur service
    • Identifikasi fungsi-fungsi sistem yang bersifat umum.
    • Jadikan fasilitas penyedia fungsi-fungsi tersebut sebagai service untuk umum.
    • Pengalihan tugas/tanggung-jawab pengelolaan fasilitas tsb dari bagian aplikasi ke bagian infrastruktur.
  4. Pengelolaan portfolio infrastruktur
    • Organisasikan platforms, patterns, dan services dalam suatu portfolio standar perusahaan.
    • Sebagai pusat informasi untuk perencanaan (costing, capacity planning, quality assurance).
    • Secara periodik dilakukan reviewatas standar-standar yang dipilih, baik dalam jangka panjang (strategic planning) maupun jangka pendek (tactical planning: per-proyek).
  5. Pelembagaan perencanaan infrastruktur
    • Pembentukan peran Manajer atau Perencana Infrastruktur TI
    • Terpisah dari organisasi pelaksana proyek pengembangan aplikasi.
    • Memilih dan menetapkan standar-standar infrastruktur TI perusahaan.
    • Mengembangkan interface (misal: middleware) bagi penggunaan ulang/silang sumber daya infrastruktur.
  6. Pengelolaan infrastruktur sebagai paket-paket solusi.
    • Mengkemas layanan-layanan infrastruktur sebagai paket produk
    • Lengkap dengan informasi tentang manfaat, kapasitas, persyaratan kinerja (service level), dan costing.
    • Memudahkan pihak manajemen bisnis untuk mengevaluasi dan mengambil keputusan tentang investasi infrastruktur.
    • Dapat dikembangkan menjadi profit center.
  7. Dengan mengikuti metodologi diatas dalam merencanakan infrastruktur TI menurut Robertson & Sribar bisa diperoleh sebuah infrastruktur yang adaptif dan menjadi aset organisasi yang strategis.

    Referensi: B. Robertson & V. Sribar, “The Adaptive Enterprise: IT Infrastructure Strategies to Manage Change and Enable Growth,”Intel Press, 2001.


Logo BlankOn

11 Oktober 2008

Tahu BlankOn kan? Distro Linux versi Indonesia itu? Sudah pernah lihat logonya? Gambar lucu sebuah topi tradisional Indonesia. Berikut saya kutipkan makna filosofisnya dari Wiki:

BlankOn adalah tutup kepala khas beberapa suku/budaya di Indonesia, antara lain suku Jawa (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), suku Sunda (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Barat dan Banten), suku Madura, suku Bali, dan lain-lain.

BlankOn juga berarti blank (bilangan biner 0) dan on (bilangan biner 1) atau topi digital (modern) dengan tampilan klasik (kuno).

Arti lain kata BlankOn adalah perubahan dari blank (kosong) menjadi on (menyala atau berisi).

Arti filosofi BlankOn adalah harapan agar pengguna distro BlankOn berubah dari belum sadar (kosong) menjadi sadar (berisi) bahwa ada Linux yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan skill di bidang TI, martabat, dan kemandirian bangsa Indonesia.

BlankOn diharapkan menjadi penggerak (activator) atau meningkatkan motivasi masyarakat Indonesia untuk menggunakan dan mengembangkan Linux dan FOSS lainnya. BlankOn juga sebagai pelindung (tutup kepala) dari ketergantungan terhadap software proprietary.

BlankOn telah akan memasuki versi ke 4.0. Cuma untuk versi 4 ini gambar logo tersebut tidak akan digunakan lagi. Konon katanya ada yang keberatan karena ada sentimen kesukuan. Timbul masalah untuk icon yang digunakan di dalam panel.

Saya pribadi suka sekali ketika pertama kali melihat logo itu, bukan karena saya orang Jawa tapi karena lucu, unik dan terasa punya identitas yang mencerminkan Indonesia kalau disanding dengan logo Linux yang lain. Bagi saya orang orang yang merasa logo itu mengandung sentimen kesukuan adalah orang yang takut akan perbedaan.

Seandainya sejak awal logonya bukan topi blangkon tapi misalnya destar dari Bali atau Peci atau artefak budaya khas Indonesia lain yang bisa memberi identitas, saya pikir juga tak masalah. Justru disinilah kita diuji bagaimana kita menghayati ke-Bhineka Tunggal Ika-an kita dengan tidak menghapus identitas suku yang berbeda beda itu tapi tetap merasa terwakili sebagai satu bangsa.

Selain daripada itu untuk branding tentu tidak bagus gonta ganti logo, akan susah sekali melakukan campaign terhadap sesuatu yang baru. Kalau isu sentimen suku bisa merubah logo maka apakah setelah logo diubah lantas isu itu akan hilang? Tidak juga sebab nama BlankOn juga bisa dipermasalahkan karena mirip dengan kata blangkon topi jawa itu. Tak akan ada habisnya.

Kalau mau lebih netral mungkin bisa diambil nama binatang khas Indonesia dengan gambarnya sekaligus. Seperti misalnya Anoa atau Cendrawasih atau Jalak Bali atau Kecoa sekalian.. ;-p eh kecoa itu bukan khas Indonesia yah?

Menurut saya khazanah kekayaan budaya kita lebih pas jika diangkat tanpa perlu dicurigai ada unsur dominasi budaya tertentu. Untuk menghindari kecurigaan dominasi mayoritas mungkin bisa diangkat dari daerah yang minoritas seperti gambar Koteka misalnya. Tapi bukan berarti bebas masalah juga lho…

Saya rasa yang paling baik bukan mengganti logo tapi memberi pengertian pada masyarakat yang mempermasalahkan itu bahwa kami masyarakat IT tidak memiliki niat untuk melakukan hegemoni budaya daerah tertentu.

Kenapa sih pake curiga dengan niat baik bangsa sendiri? Kenapa ketika ada orang luar yang memakai nama Java untuk bahasa pemrograman tidak ada yang protes? Rugi kita kalau tak memanfaatkan kekayaan bangsa ini yang ragamnya tak tertandingi. Katong samua basodara… Indonesia.


Ayat Ayat Server

22 September 2008

Kini tak jamannya lagi membangun aplikasi yang hanya bisa berjalan dengan baik. Dulu tak banyak yang perduli tapi kini dibanyak kesempatan saya selalu ditanya bagaimana dengan isu beban komputasi yang tinggi. Saya berdalih: oh itu soal server.

Ternyata tidak semudah itu, arsitektur aplikasi yang kita bangun haruslah inline dengan arsitektur cluster server yang akan menjadi tempat hostingnya. Belum banyak tempat hosting yang menyediakan fasilitas cluster ini.

Walhasil saya harus mempelajari load balancing, spec server dan aristekturnya. Kenapa sih saya harus mempelajari ini lagi. Perkembangan daya komputasi selalu disusul dengan permintaan mengurus layanan yang akan membuat daya yang semula dianggap besar menjadi kurang. Tak adakah server yang mampu menangani segala macam komputasi tanpa lelah, tanpa tidur sedikitpun sepanjang tahun?

Suatu lamunan yang tak penting di sudut pekerjaan tak sengaja membuat pandangan ini mengarah pada sebuah ayat yang terpajang di dinding. Ayat itu berbunyi:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.

Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)

Tak terbayang daya komputasi yang mampu dilakukanNya untuk mengurus alam semesta ini. Kita ini cuma script kecil dalam server maha besar milikNya.


Kuliah Umum Dr Alexander Schatten

31 Juli 2008

Kemarin saya ikut kuliah umum yang disampaikan Bpk Dr Alexander Schatten dari Vienna University of Technology, Faculty for Informatics, Institute for Software Technology and Interactive Systems (ISIS/IFS), Austria.

Salah satu tujuan kehadiran beliau di Indonesia adalah dalam rangka memperkenalkan program beasiswa untuk studi S3 di Austria bagi para calon lulusan program Magister Teknologi Informasi UI. Beasiswa berupa biaya kuliah dan biaya hidup selama menempuh studi di Austria.

Dalam kuliah umumnya Pak Alex yang dihantarkan oleh dosen kami Pak Dana Indra Sensuse PhD, memaparkan tentang teknologi open source adalah sebuah jawaban untuk tantangan dunia global di masa depan.

Ledakan populasi penduduk pada tahun 2050 akan mencapai 9 miliar jiwa menurut perhitungan PBB. Angka itu tak akan meleset jauh dan kita sekarang telah merasakan dampak dari padatnya penduduk dunia yang baru 6 milliar ini.

Terlebih lebih negara berkembang seperti Indonesia yang lebih banyak mengandalkan sumber daya alam yang tidak sustainable. Kita tak bisa terus menerus mengandalkan minyak bumi yang akan habis dalam waktu dekat ini.

Salah satu masalah serius bagi Indonesia adalah Illegal Logging. Aktifitas ini selain telah merugikan Indonesia ratusan triliun tiap tahun juga yang lebih parah lagi adalah merusak hutan sebagai sumber daya alam.

Pak Alex mengatakan bahwa hutan yang dikelola dengan baik akan memberikan hasil yang dapat diperbaharui dan hasilnya jauh lebih banyak daripada Illegal Logging.

Karena manfaatnya bisa dirasakan lebih merata untuk rakyat tapi kalau Illegal Logging maka hanya segilintir orang dengan cara merusak lingkungan.

Dalam perkembangan globalisasi semua masalah menjadi bukan lagi masalah lokal tapi sudah menjadi masalah global.

Masalah yang ada di China, India dan Indonesia misalnya tak bisa lagi dialamatkan sebagai masalah lokal negara masing masing tapi sudah menjadi permasalahan dunia.

Penggunaan BBM yang eksesif atau Illegal Logging di negara tertentu tapi dampaknya akan terasa secara global seperti misalnya global warming.

Ketika penduduk dunia mencapai 9 milliar pada tahun 2050 maka jelas kita tidak mungkin hidup masih dengan cara seperti sekarang ini. Segala sumber daya alam harus dikelola dengan baik untuk bisa mensejahterakan 9 milliar umat manusia.

Gandhi pernah berujar: Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia. Tapi bumi ini tak akan cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang manusia.

Ungkapan The World is Flat dapat dilihat gambarannya dalam bagaimana nanti dunia menata sumber daya alam yang terbatas ini. Jika sebuah negara hendak mengekspor hasil hutan, misalnya berupa kayu maka negara tersebut harus bisa menunjukkan tanda sertifikasi international yang menjamin kayu tersebut adalah bukan dari hasil Illegal Logging.

Sertifikasi semacam ini juga akan diberlakukan pada segala macam komoditi yang menggunakan sumber daya alam seperti hasil laut, peternakan dan pertanian. Untuk memastikan bahwa komoditi tersebut didapat dari hasil aktifitas yang legal.

Jika sebuah negara tidak mampu dalam memenuhi sertifikasi ini maka negara tersebut akan bermasalah pada ekspor karena semua negara akan menuntut sertifikasi semacam ini. Negara yang bermasalah dengan ekspor tidak akan mendapat devisa dan kecenderungan untuk bermain dipasar gelap akan semakin besar. Ini akan menjadi biang masalah.

Untuk dapat memenuhi sertifikasi ini dibutuhkan pengelolaan sumber daya alam yang melibatkan berbagai macam pihak baik itu antar instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta pelaku usaha. Bahkan juga antar pemerintahan negara.

Pihak pihak yang berkepentingan dituntut untuk dapat mengelola informasi dengan baik dan benar. Satu satunya cara mengelola informasi dalam kuantitas dan kualitas yangbesar adlah dengan memanfaatkan teknologi dengan arsitektur terbuka.

Kenapa mesti terbuka?

Teknologi adalah tool yang paling penting dan strategis dalam mengelola informasi. Jika sebuah teknologi dinyatakan terbuka maka setiap orang dapat mempelajarinya dan mengembangkannya sendiri untuk keperluannya sendiri yang juga bisa bermanfaat bagi ornag lain dengan kebutuhan yang sama.

Contoh sukses dari teknologi yang bersifat terbuka adalah Internet. Begitu pesatnya perkembangan Internet seolah olah seperti Renaisance kedua dalam sejarah umat manusia. Segala aspek kehidupan berubah mulai dari bisnis hingga politik. Fenomena kemenangan Obama merupakan salah satu bukti.

Internet tak akan mengalami perkembangan sepesat itu bila tidak dibangun di atas protokol TCP/IP yang bersifat terbuka. Semua orang bisa dan boleh membangun aplikasi apapun untuk dijalankan diatas protokol TCP/IP.

Ada apa dengan teknologi tertutup (proprietary)?

Dr Alexander Schatten mengatakan bahwa ia tahu kami mahasiswa menggunakan operating system bajakan. Para mahasiswa tertawa. Tawa terhenti ketika Pak Alex mengatakan bukan cuma dia yang tahu tapi mereka para vendor itu juga tahu. “It’s ok you can use it… come on steal it…“, kata Pak Alex mendramatisasi para vendor proprietary tersebut.

Sekarang kita sedang berkembang, SDM kita sedang belajar mengoperasikan software komputer. Apa yang sudah dipelajari sejak awal maka akan susah sekali untuk berpindah ke software jenis lain.

Nanti setelah 10 tahun atau 20 tahun lagi ketika SDM kita sudah sangat bergantung pada software dari vendor proprietary tertentu dan tidak bisa bekerja bila tidak menggunakan software tersebut maka pada saat itulah mereka para vendor proprietary itu akan memeras kita seperti jus lemon kata Pak Alex.

Dengan menggunakan software proprietary kita diajarkan hanya tahu menggunakan tapi tidak tahu bagaimana software itu bekerja. Jadi kalau ada masalah atau pengembangan untuk kebutuhan tertentu kita tetap tergantung dengan pembuatnya.

Padahal dengan software open source (sumber terbuka), bila kita ingin tahu bagaimana web server bekerja kita tinggal download Apache dan pelajari isinya. Ingin tahu bagaimana browser bekerja tinggal download Firefox dan pelajari bagaimana sebuah browser bekerja.

Ingin tahu bagaimana cara kerja dari indexing database, tinggal download MySQL lalu pelajari bagaimana. Software tidak terbatas pada contoh yang disebutkan tapi banyak lagi yang lain yang bisa dipelajari.

Ketergantungan adalah kata kunci jika kita menggunakan software proprietary. Sebuah ketergantungan adalah sebuah keterjajahan.

Ketika jaman Belanda, perkebunan di Sumatra butuh banyak dokter untuk merawat kesehatan mereka, maka Belanda membuka sekolah dokter STOVIA untuk mendidik calon dokter Jawa. Dokter Jawa ini keahliannya tak boleh setaraf dengan dokter Eropa. Mereka digaji lebih rendah dan ilmunya harus dijaga tak boleh benar benar sama dengan dokter Eropa.

Suatu karakteristik yang mirip dengan dampak penggunaan software proprietary. Kita hanya dibolehkan menggunakan tanpa boleh tahu bagaimana sebuah software itu bekerja.

Sedangkan dalam lingkungan open source kita diberi kebebasan untuk mengetahui apa yang ada didalam sebuah software untuk dapat kita kembangkan sendiri untuk kepentingan kita dimasa depan.

Sebuah software open source dapat dimiliki secara bebas, digunakan secara bebas, dimodifikasi, dikembangkan sendiri bahkan dapat dijual untuk kepentingan bisnis kita. Inilah yang saya sebut sebagai sebuah pembebasan.

Sumber daya alam yang kita miliki layak untuk dikelola dengan semangat pembebasan. Ketahanan IT akan dapat terwujud hanya dengan penggunaan software yang membebaskan. Agen yang paling dominan untuk memulainya adalah pemerintah melalui e-Government.

Pemerintah memang mendukung IGOS (Indonesia Go Open Source) tapi pemerintah juga membina kerja sama dengan Microsoft. Ini membuat momentum menjadi berkurang. Belum lagi usaha Microsoft membagi bagi lisensi Vista gratis di kampus kampus.

Mahasiswa yang jadi ujung tombak pengembangan IT dimanjakan dengan lisensi gratis, ini sangat membuai. Seperti ilustrasi Dr Alexander Schatten: Seorang pengedar narkoba selalu memberi produknya secara gratis diawal tapi setelah korbannya ketagihan maka pada saat itu tidak bisa gratis lagi.

…gimana kalo PC Lab kita di ganti Ubuntu semua yah? Anak anak kelas udah pada mulai ganti OS Notebook mereka tuh. Seperti si David awalnya dual boot tapi sekarang setelah berbagai aplikasi padanan tersedia di Ubuntu dia mau total Ubuntu, Vistanya mau dihapus katanya… yuuukkkk


Sepuluh Tahun Open Source Convention (OSCON)

18 Juli 2008

Open Source Convention (OSCON) akan mengadakan konferensi untuk yang kesepuluh kalinya. Konferensi OSCON adalah konferensi terbesar untuk lingkungan open source. Konferensi kali ini, OSCON 2008 akan menampilkan pelaku utama open source sebagai nara sumber untuk 400 session dalam 5 hari dari tanggal 21 sampai dengan 25 Juli di Portland, Oregon, Amerika Serikat.

Mereka yang akan hadir untuk bertemu muka, berdebat, tukar pikiran adalah para profesional, entrepreneur, developer, hacker, manajer, implemnetor, publisher, editor, yang berjumlah tidak kurang dari 2500 partisipan dari seluruh dunia. Bayangkan seperti apa konferensi ini, mau ikut?